Jumat, 19 Desember 2014

September Love~

Setelah dua tahun yang melelahkan, akhirnya aku bisa berdamai dengan masa lalu. Sudah tidak ada lagi pura-pura lupa, pura-pura tegar, pura-pura tidak peduli pada sosok kenangan yang sebenarnya sulit untuk dikatakan indah atau sedih. Akhirmya, setelah dua tahun memikirkan berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk, apa yang salah, mengapa harus berakhir, apakah aku bisa berdiri tegak dihadapannya tanpa merasakan apapun, semua terjawab sekarang. 

Aku tidak berusaha melupakan, tidak berusaha untuk menghindari segala macam hal yang akhirnya menjurus pada kenangan itu, tidak berusaha untuk menghapus semua jejak, karena aku sadar bahwa ketika aku sudah siap, maka semua akan berubah dengan sendirinya. Karena perihal melupakan bukan sebatas kita tidak saling bertemu saja. Bahwa sebenarnya ada keyakinan bahwa suatu saat nanti, kita akan bertemu kembali dan aku tidak memiliki perasaan apapun lagi. Dan itu benar adanya.

Setelah dua tahun itu, aku sadar bahwa melupakan bukan perihal mengubur kenangan. Tapi memaafkan diri sendiri. Memaafkan bahwa dulu kita pernah melakukan kesalahan dan sadar bahwa masa lalu tidak bisa terulang lagi. Karena yang sulit dari proses melupakan bukan perihal kenangannya, melainkan rasa penyesalan mengapa kita melakukan hal itu. Rasa penyesalan lah yang akhirnya membelenggu kita untuk tetap berjalan ditempat. 

Dan setelah dua tahun itu, akhirnya segalanya berakhir. Meskipun aku tidak tahu bagaimana akhirnya. Apakah aku harus belajar memaafkan lagi ataukah berlabuh pada kapal yang sama, setidaknya aku sudah pernah tahu, bahwa selama dua tahun kemarin aku benar-benar belajar bahwa untuk berubah, aku harus berusaha menerima kesalahanku dan memaafkannya. 


Terimakasih, karena tanpa sejarah, masa depan buka apa-apa :)


With Love
Dea

Rabu, 10 Desember 2014

Jika

Jika kamu ingin tahu, tuan. Membangun tembok yang baru saja kamu hancurkan membutuhkan masa dua tahun lamanya sambil aku merengek pada Tuhan bahwa jika sekarang milikku diambil, tolong gantikan itu dengan yang lebih baik Ketika aku benar-benar siap untuk memulainya lagi.

Aku fikir itu kamu...

Namun terakhir kita bertemu di persimpangan jalan itu,sepertinya Tuhan masih ingin memintaku untuk menunggu lebih lama.


-Alia-

Kamis, 27 November 2014

Persis seperti ini...

Pada akhirnya, yang sebenarnya terjadi adalah hanya aku yang terlalu mepersepsikan bahwa kamu itu selalu ada. Pada akhirnya, kebersamaan sekian tahun itu seperti daun yang tertiup angin-satu per satu gugur dari tangkainya-.

Aku lelah...

Selalu menduga bahwa kamu ada, padahal semu.

Mungkin ini namanya karma?

Aku pernah dicintai sebegitu dalam dan aku acuhkan, sampai kini aku mencintai sebegitu dalam namun aku diacuhkan. Persis seperti ini.


-Alia-

Kamis, 24 Juli 2014

Sesederhana datang dan pergi

Sebenarnya, semuanya bisa dijelaskan sesederhana konsep datang dan pergi. Jangan menyela-tolong- dengarkan aku dulu. 

Kita pasti akan marah, kesal, kecewa ketika perlakuan tulus yang kita lakukan untuk orang lain dibalas dengan perlakuan yang tidak setimpal. Orang baru di duniamu yang lain itu, dunia yang didalamnya selain ada aku telah menyeretmu pergi lebih jauh dari duniaku tanpa kamu dan aku sadari. Ketika aku sadar, kamu sudah terlalu jauh, sudah memiliki duniamu sendiri yang tanpa kamu sadari tidak ada aku di dalamnya. Tapi kita bisa apa? kamu juga pernah bilang kalau urusan hati itu tidak akan pernah bisa di bohongi. Begitu juga dengan ini. Kita sama-sama tahu hukum alam yang bicara mengenai adaptasi. Ingat? waktu itu kamu dengan semangat menjelaskannya padaku. Bahwa makhluk hidup akan melakukan adaptasi dengan berbagai cara, contohnya berpindah tempat. aku tahu-aku tahu. ini bukan argumen kuat untuk memuaskan segala dahaga logikamu. Tapi apa kamu merasa bersama orang lama-aku- begitu membosankan karena aku sama sekali buta dengan duniamu? Apa kamu tidak merasa jengah membicarakan setiap orang yang ada di dunia lainmu itu padaku yang jelas sama sekali tidak tahu siapa mereka? Aku jengah.. menjadi orang yang tidak tahu apa-apa tentang kamu.

Ibarat jalan, aku dan kamu sudah tidak searah. Kita sudah punya tujuan berbeda, dan kita sama-sama tahu jika masih mempertahankannya sama dengan menyakiti hati kita masing-masing. Entah ini dimulai dari mana, kepergianmu kah? ketidak pekaanku kah? Tapi yang jelas, semuanya seakan membuat lapisan transparan yang menjelaskan bahwa keadaannya, aku dan kamu sama-sama hanya bisa saling melihat satu sama lain tapi tidak bisa saling menjaga. Dan aku benci kita yang seperti itu. Aku benci menjadi orang yang hanya bisa melihat tanpa bisa menjaga apa yang ada pada daerah teritorialku. Itu menyakitkan dan aku menyerah.

Hubungan ini rumit. Tapi sudah kubilang bahwa semuanya sesederhana konsep datang dan pergi. Baik di duniaku atau di duniamu, setiap orang itu akan datang dan pergi. Kamu bertemu banyak orang dan aku juga. Kamu punya cerita sendiri dan aku juga. Inginnya kita sama-sama memiliki cerita diantara kedua dunia kita itu. Hanya kita. Tapi sayangnya tidak begitu. Lapisannya terlalu tebal dan semakin kamu bergerak, lapisan itu menjauh dan akhirnya hanya ada aku. Sendirian. Mentap punggungmu yang menghilang diantara gerbong-gerbong kereta yang membawamu ke duniamu yang lain itu. 

Untuk itu, aku tidak ingin menahanmu. Aku tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang tidak ingin kamu bahagia. Aku tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang berlaku egois bahkan pada hidup yang sama sekali bukan miliku, pada cita-cita yang sama sekali tidak melibatkan aku didalamnya dan pada dunia yang sudah susah payah kamu bangun. Aku tidak se tega itu. Jadi tolong, serumit apapun kita, kamu hanya perlu memahaminya sesederhana konsep datang dan pergi. Sesederhana itu.


Regard
Alia

Senin, 23 Juni 2014

I'm fine. It's enough.

Aku baik-baik aja. Kalo itu yang mau kamu tanya. Gak usah pake basa basi yang gak penting karena memang aku udah tau kamu mau ngomong apa. Ah iya, aku juga bakal pura-pura gak tau sih kamu mau ngomong apa. Hello, aku gak se cuek itu sampe gak tau maksud kamu apa. hahahah sorry.. kadang ada banyak hal yang gak ingin aku dengar tapi harus terpaksa aku dengar. Ada beberapa hal yang ingin aku dengar tapi sengaja kamu sembunyikan? (apa aku benar?) ada beberapa hal yang aku tahu memang seharusnya aku pura-pura tidak peduli dan semuanya akan baik-baik saja.

I'm fine, untuk saat ini dan aku rasa itu cukup. Aku cukup sadar bahwa menyakiti satu orang lagi tidaklah benar. Jadi, aku pura-pura tidak peka, pura-pura tidak peduli, dan pura-pura tidak tahu apa-apa. Aku baik-baik saja sampai saat ini dan dari setelah masa itu aku rasa ini menjadi awal yang baik. iya kan? jadi jangan buat aku untuk berbuat terlalu jauh karena aku tidak bisa, dan tidak ingin.

I'm still fine sampai kamu tanya-tanya hal-hal yang gak ingin aku jawab. Sudah aku bilang berapa kali kalau ada hal yang tidak ingin aku dengar, aku ingat, dan aku rasa lagi. Tapi ketiganya masih ada sehingga aku bisa apalagi selain menghindar? menghindar, menghindar, menghindar. Aku capek tapi aku bisa apa?

I'm still fine and it's enough. Cukup untuk buat aku sadar kalau aku baik-baik saja dan masih dicintai. Aku punya banyak orang-orang baik dan menyenangkan. And hey, hidup gak berat-berat amat kok selama bareng mereka. :)


ps. Thank you guys who always cheer me in whataver situation in my life. I love you, my best, moodboster ever. Thank you because always said that i'm fine in my way.

Minggu, 27 April 2014

Apa aku baik-baik saja?

Pernah merasa buntu dengan dirimu sendiri? Aku pernah, dan masih.
Setiap hari aku tersenyum, tertawa,  melakukan setiap kegiatan seperti biasanya, tapi apa aku baik-baik saja? Entahlah..

Minggu, 13 April 2014

Allah, please take care my grandpa :'(

Amir Bin Tumirin
31 Desember 1931 - 12 April 2014

“Ya Allah! Ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” [HR. Muslim 2/663]












 

Jumat, 11 April 2014

Triiiinnggg.. you can see your MAGIC!

Sometimes friends are familiy too
-Snow White (Disney Hallmark)
Thank you for all motivation, inspiration. Thank you for not only be my friends, but also my family. And of course, thank you for every single day that we spent together. :)

Jadi gini... gak kerasa udah setengah jalan menempuh bangku kuliah. Susah, senang, gila, stress, heboh.. semua jadi satu. Gak pernah mikir, mimpi, ngebayangin ketemu orang-orang macem kalian disini. And hey, gue rasa yang orang-orang bilang tentang dunia luar itu tidak seburuk yang kamu bayangkan. Kamu bertemu dengan orang-orang baru yang menjadi keluarga barumu. Keluar dari comfort zone tidak seburuk yang gue bayangin dulu. Pergi jauh dari rumah bukan berarti gue kehilangan keluarga gue, malahan gue dapetin keluarga baru disini. 

Sometimes we argue about hal-hal yang gak penting, atau penting, atau sesuatu yang sebenarnya gak cocok buat dijadiin bahan obrolan. BUT WE DID IT! :D

Dan yang terpenting, bertemu mereka membuat gue berkaca pada diri gue sendiri. Apa yang sudah gue lakuin, dan belum gue lakuin selama ini. Gue rasa selama ini gue sudah ngelakuin yang terbaik, tapi setelah ketemu mereka. God, diatas langit memang masih ada langit. Mereka melakukannya jauh lebih baik, dan itu membuat gue terpacu untuk memperbaiki diri dan mengembangkan kapasitas lagi agar menjadi lebih baik. 

Bertemu dengan mereka juga membuka mata gue bahwa di dunia ini banyak banget masalah yang harus dihadapin, gue gak bisa asal hidup dengan slogan 'jalanin aja and let's see apa yang bisa dikasih waktu untuk ini'. Untuk pertama kalinya, Gue diajari cara bermimpi, and of course dengan cara mewujudkannya.

Untuk pertama kalinya gue punya mimpi yang bener-bener pengen gue wujudin. Untuk pertama kalinya gue merasa tempat gue sekarang terlalu sempit dan gue ingin pergi lebih jauh untuk melihat lebih dekat, dan mempelajari lebih banyak hal yang Tuhan ciptakan.

Dulu gue gak pernah benar-benar pengen belajar. Dulu, gue pikir belajar hanya sebuah rutinitas yang harus gue jalanin untuk mengisi hidup gue.  Dulu, gue pikir bahwa mengetahui sesuatu memang karena seharusnya kita mengetahui itu, bukan karena kita ingin mengetahui itu. 

And the fears that once controlled me can't get to me at all
Up here in the cold thin air i finally can breathe
I know left a life behind but i'm to relieved to grieve--Forzen
Let it go..  apapun yang terjadi pada kita dulu, yang terpenting dari semuanya adalah bagaimana kita terus berusaha untuk menjadi lebih baik, bebas menjadi apa yang kita inginkan, memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan, and you'll see your life is wonderful life you ever seen. :)

p.s. you must go out from your comfort zone. Then.. triiinggg you'll see the MAGIC!





 





Selasa, 08 April 2014

Changed??


Athirah
   
Semua yang aku lakukan selama ini.. (tersenyum pahit). Saka? Apa kamu pernah merasa kosong? Apakah kamu pernah merasa..ketika menatap hamparan langit biru yang luas, kamu merasa sepi? Atau ketika angin menerpa wajahmu, kamu merasa sendirian?


Saka 
    
A-Athira... (terkejut melihat reaksi Athira)


Athirah 
  
Aku merasakannya... disini (memegang dada) sesak.. seperti ada lubang yang besar disana. Aku benci perasaan ini.


Saka 
     
(mengelus kepala athirah) kamu hanya perlu melihatnya dengan cara yang berbeda.



Athirah
  
(mendongak, menatap Saka)


Saka
      
kita, sudah bukan kita yang dulu kan? Kita berubah, bertemu dan meninggalkan banyak orang, memecahkan dan membuat masalah baru, kemudian mengambil keputusan diwaktu yang sama. Lubang itu... adalah tempat kamu memasukkan kenangan. Apa yang sudah kamu lalui, dengan siapa kamu lalui.. lubang itu, menjadi tempat kamu menyimpannya. Sebaiknya lubang itu dihias, karena kenangan, artinya kamu pernah hidup, dan dicintai.


Athirah
  
(mengerjap, kemudian menitikan air mata) Aku.. menyukai kenangan, seburuk apapun itu. Seperti katamu, kenangan artinya kamu pernah dicintai-dan mungkin masih. (tersenyum, kemudian memeluk Saka)


Saka 
      
(tersenyum lega, mengelus kepala Athira

Athirah
  
(mendongak menatap Saka, kemudian tersenyum) Selamat datang, Saka..


Saka
     
(mengerjap. Kemudian tersenyum) Aku pulang..

Kamis, 27 Maret 2014

Thank You Allah :))

I consider my self very lucky, and i am eternally grateful for the life, friends, parents, familiy, that God had given me :')















Rabu, 26 Maret 2014

Kenapa Pilih Caleg Perempuan??



     Gender, isu-isu publik yang saat ini sedang marak diperbincangkan seantero dunia, termasuk Indonesia. Bagaimana kini sekelompok manusia berjenis kelamin perempuan gencar menyuarakan hak-hak kesetaraan mereka dengan kaum adam. Sebenarnya, perjuangan perempuan untuk diakui keberadaan dan hak nya sudah marak terjadi sejak awal abad ke-20. Menurut bahan ajaran mata kuliah Gender dan Pembangunan yang sedang saya ambil semester ini, pada awal abad ke-20, diawali dengan para perempuan kulit putih yang mulai gencar memperjuangkan hak pilih mereka, kemudian di Eropa, Amerika Serikat dan Asia sekitar tahun 1960-1980an mulai gencar memperjuangkan hak persamaan kerja dan seksualitas, perjuangan-perjuangan kesetaraan hak-hak terutama hak pilih dan kesamaan kerja masih menjadi isu hangat dunia hingga saat ini.


     Kenapa memilih calon legislatif perempuan? Ada banyak alasan yang mendasarinya, diantaranya: pertama, perempuan bukan sebagai objek pembangunan. Dalam konteks negara demokrasi, seharusnya program pembangunan harus dengan pendekatan parsitipatif, yaitu seluruh stakeholder pembangunan berpartisipasi dari menyusun, hingga implementasi program pembangunan tersebut. Perempuan bukan lagi sebagai objek pembangunan, tetapi sudah berubah struktur menjadi subjek pembangunan, yang mana, mereka dapat berpartisipasi aktif dalam setiap proses pembangunan. Kedua, jika berkaca dari pengalaman terdahulu, bagaimana program revolusi hijau dijalankan, banyak dari kaum perempuan yang mendadak hilang pekerjaan akibat teknologi mesin panen untuk padi yang disosialisasikan sebagai bagian dari program pembangunan. Tanpa melihat budaya masyarakat yaitu panen padi yang biasanya dilakukan oleh para perempuan. Masyarakat diberi sosialisasi teknologi baru mesin panen padi yang dari segi fisik, diperuntukan untuk kaum laki-laki. Belum lagi sosialisasi tersebut hanya diberikan kepada kaum laki-laki karena terdapatnya konstruksi masyarakat bahwa perempuan tidak etis berpartisipasi dalam urusan dengan orang luar (dalam hal ini penyuluh). Perempuan menjadi terdiskriminasi dalam konteks kesamaan kerja dan akses akibat program pembangunan yang tidak melihat dari sisi gender. Ketiga, menurut buku yang saya baca, Girl and Tech karya Aulia “Ollie” Halimatussadiah, dalam bukunya, beliau banyak menuliskan fakta-fakta penelitian yang ia baca dan dengar tentang wanita. Bagaimana seorang perempuan memiliki banyak potensi, salah satunya dalam hal management skills, yaitu dapat melihat potensi terbaik dari anggota tim nya dan menempatkan mereka pada posisi yang sesuai. Sehingga program atau proyek dapat dilaksanakan dengan sukses. Potensi ini seharusnya menjadi aset sumberdaya manusia yang baik bagi negara kita.


      Sederhananya begini, “kita lebih tahu persis apa yang kita butuhkan.” Begitu pula dengan urusan pemerintahan. Kebijakan, serta program-program peningkatan taraf hidup yang melingkupi wanita sebagai sasaran pembangunannya akan lebih efektif ketika disuarakan oleh diri mereka sendiri. Kebebasan berpartisipasi dalam pembangunan seharusnya menjadi hak atas setiap warga negara. Negara ini sudah bukan lagi terjajah seperti zaman kolonialisme dahulu, negara ini sudah berubah menjadi negara demokrasi yang menaungi aspirasi dari warganya, termasuk perempuan.


      Untuk itu, adanya peran perempuan dalam kursi legislatif sangatlah diperlukan. Bukan karena isu gender mengangkat tentang perempuan, bukan karena laki-laki tidak baik dari segi manajemen dan pemerintahan dibanding perempuan. Tapi, lebih kepada bagaimana perempuan diberikan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya bagi kepentingan diri mereka sendiri, bagaimana program-program pembangunan dibuat secara objektif sehingga kesejahteraan dapat merata dan menjadikan Indonesia yang lebih baik.

Selasa, 11 Maret 2014

Terimakasih, Allah, untuk segala kesempatan yang engkau berikan. Kesempatan hidup, kesempatan berbagi, kesempatan belajar, dan kesempatan menjadi Muslim.

Sabtu, 01 Maret 2014

GAP

"Dan pada akhirnya, sesuatu yang kamu sebut kamu adalah gabungan dari hal-hal yang biasa kamu lakukan."
Bisa karena terbiasa? atau terbiasa karena bisa? I think, process will show you who you are. Dan gue tahu kalau apa yang gue sebut gue sekarang adalah apa yang selalu gue lakuin dulu-dulu. Dan terkadang hal itu mengganggu. Gue selalu pengen tahu banyak hal. Kenapa orang bisa dan gue gak bisa, kenapa orang sanggup kenapa gue gak sanggup? Gue selalu pengen tahu yang gue salah itu dimananya. Masa lalu gue yang negebentuk gue kayak gini? atau emang gue nya aja masih kayak bocah? Atau karena semua ini baru dan gue gak ngerti harus ngelakuin apa?

"Tapi kelinci gak bisa nunggu kura-kura di arena perlombaan lari."
Sama kayak lo gak bisa nyuruh kakak lo yang udah bisa jalan buat merangkak supaya jadi sama kayak lo.  Pada akhirnya harus ada yang ditinggalkan dan meninggalkan. Seseorang bilang ke gue kalau kapasitas seseorang buat menghadapai masalah itu berbeda-beda, even if mereka dilingkungan yang sama bahkan bersebelahan, atau mungkin tumbuh bersama. Dan percaya atau enggak, gue bener-bener benci sama hal ini.

Gue gak suka ketika gue ditinggalkan, atau meninggalkan. Keduanya sama-sama sakit dan kalau boleh memilih, gue pengen milih 'atau'. Tapi hidup itu adalah kumpulan dari pilihan-pilihan. Lo mau maju, atau mundur. Diam di tempat cuma bikin lo kelindes zaman dan waktu. Terus dilupain gitu aja.

Gue juga gak suka ketika gue dilupain, atau ngelupain orang, atau berada diantara keduanya yang artinya gue bukan siapa-siapa sampai harus gak dilupain, atau dikenang. Semuanya berpikir sama tentang gue. Terus gue hidup di bumi belahan mana?

Actually, gue tahu kalau perbedaan itu selalu ada. Gue tahu, dibelahan bumi sana, mungkin orang udah siap-siap mau pindah ke mars sementara gue masih mikirin sebenarnya masalahnya apa. Mungkin orang-orang disekitar gue udah mau nyampe garis finish semenatara gue masih baru mau lari. Pertanyaan 'kenapa' jadi gak ada artinya lagi. Yang seharusnya digantikan dengan pertanyaan 'Bagaimana'.

Akhirnya yang harus gue lakuin adalah berlari lebih kencang, atau lebih cerdas, atau lebih efektif, atau lebih sistematis. Kalau orang-orang udah 'matang' dijalan yang mereka lalui sepanjang usia mereka sampai saat ini,  gue harus 'matang' dengan jalan gue yang sekarang gue laluin.

"Gak ada kata terlambat untuk memulai. Tapi memang sangat sakit menyentuh tanah ketika semua orang menyentuh langit."





Kamis, 20 Februari 2014

Mungkin..

Mungkin ada saatnya seseorang akan merasa nyaman berada ditengah-tengah orang yang tidak dia kenal dan tidak mengenal dia seperti kamu mengenalnya.

Mungkin ada saatnya seseorang akan merasa nyaman hanya diam ditengah kebersamaan kalian.

Mungkin ada saatnya seseorang akan merasa bahwa bicara terlalu banyak, tersenyum terlalu banyak hanya akan menguak luka.

Mungkin ada saatnya seseorang hanya ingin ditemani, bukan diceramahi.

Mungkin ada saatnya yang kamu harus lakukan hanya bersisian duduk bersamanya. Tanpa menyela, tanpa bicara. Hanya duduk dan kamu tahu semuanya akan baik-baik saja.

Mungkin ada saatnya seseorang akan menjadi lebih sensitif, perasa, dan kamu hanya perlu memegang pundaknya, dan bilang bahwa dia bisa dan jangan pernah menyerah.

Mungkin seseorang itu harus berhenti untuk menyenangkan orang lain. Berhenti berpikir bahwa orang lain tidak menyukainya, berhenti berasumsi bahwa ia diasingkan, berhenti bilang ia tidak perduli, padahal ia kesepian.

Karena yang seharusnya ia lakukan adalah berbuat baik kepada orang lain, bukannya selalu menyenangkan orang lain. Atau berpikir bahwa ia akan disukai jika berbuat seperti yang orang lain fikirkan. Bukan begitu seharusnya.

Rabu, 19 Februari 2014

dududududu syaalalalalala~

Holla Blog!

Minggu ini-oh bukan-, bulan ini adalah bulan yang paling HECTIC dududu syalalallaa~. dimulai dari semua deadline acara yang puncaknya bulan Maret. otomatis bulan Februari ini jadi harus kerja lebih extra banget.

Kalau udah rapat sampe malem, tugas belum kelar, besoknya kuis, rasanya udah mikir salah banget ikut-ikut kegiatan kayak gini.

Tapi setiap usaha bakalan ada hasilnya kan ya? karena sekarang gue lagi berusaha, mudah-mudahan hasilnya baik. Aamin.

Udah segitu aja curhatnya. bye Blog. dadaaaaaaah~

Regard

Dea

Selasa, 18 Februari 2014

"Dunia ini milik Allah. Tidak ada yang bisa membuat kita tidak nyaman, tidak terkecuali, tanpa seizin kita."-Anonim


Sabtu, 15 Februari 2014

Hallo (bye) Mata Panda

"It's not enough to be busy, so are the ants. The question is, what are we busy about?"- Henry David Thoreau
Sering banget ngerasa sibuk. Tugas gak beres-beres, tidur pagi (alasan ngerjain tugas), kuliah full sampe sabtu, pulang ke kost an malem terus, rapat sana sini, deadline udah ngejar-ngejar kayak mau nyakar and bla..bla..bla yang ngerasa kok gue capek banget sih? Padahal kalau dipikir-pikir, itu gak se memakan waktu yang banyak banget sampai jam tidur berantakan, dikejar-kejar deadline, ngerasa stress tiap hari minggu karena tugas deadline hari senin dan belum dikerjain satu paragraf pun. 

Itu karena gue sering nunda-nunda tugas, atau ngerjain hal-hal yang gak penting, yang gak ada hubungannya sama kerjaan gue, atau juga hilang fokus waktu ngerjain tugas ke hal-hal yang sebenarnya gak terlalu penting dan urgent dalam waktu dekat.

Dan masalahnya berputar-putar disitu aja kayak lingkaran setan. Semua masalah berakar dari hal-hal remeh yang gue lakuin sebenarnya. Tapi gak gampang buat menghilangkan kebiasaan itu. Quote-quote motivasi aja udah berantakan gue tempelin di kamar, berharap jadi mantra tiap gue bangun tidur dan inget kalau harus ngerjain tugas cepet. Kamar udah mirip papan pengumuman jadinya. Tapi hal baik emang gak selalu mudah untuk dijalani. Adaaaa aja faktor X yang bikin males ngerjain tugas cepet. 

Sampai akhirnya, hallo mata panda *gaya iklan kosmetik* Resolusi 2014nya harus sudah mulai berjalan nih. biar tag line nya bye bye mata panda :))  

Jumat, 14 Februari 2014

Ceritanya lagi bingung mau nulis apa

Ketik, hapus, ketik, hapus, ketik, hapus. 
Begitu seterusnya sampai jam segini (23.40 WIB) tugas belum ada yang selesai. Sudah setengah halaman menulis, kemudian aku baca ulang. Tapi setelahnya aku merasa itu terlalu ewh.. tulisan yang aneh, lalu aku akan menghapusnya dan memulai menulis kata-kata yang baru. Namun proses sebelumnya terulang kembali dan akhirnya, sampai detik ini aku belum selesai menuliskan satu pragraf pun untuk laporan. Padahal teman satu kelompok sudah menagih deadline bagianku untuk disusun menjadi laporan yang seutuhnya.

Tidak seperti menulis cerita, menulis laporan itu lebih rumit. Kata-kata yang digunakan harus sesuai, tinjauan pustaka, konten isi, dan bla bla bla. Belum lagi format penulisan harus benar, jika ada kutipan harus menulisnya sesuai dengan kaidah pengkutipan, menyusun daftar pustaka yang benar dan lain sebagainya. Tapi menulis cerita juga terkadang sulit sih. Aku harus mengeluarkan seluruh imajinasiku dan menuliskannya dalam tulisan yang hidup agar pembaca mengerti. Tidak jarang aku akan menatap kosong layar laptop sambil memikirkan kalimat apa yang akan aku tulis. Lalu jika tidak menemukan ide sampai beberapa jam kemudian, aku akan beralih ke media sosial dan curhat-curhat gak jelas, atau yang lebih parah meninggalkan tulisannya dan membiarkannya mengendap lama di folder laptop. Mengingat banyak sekali cerpen-cerpen dan draft novel yang hanya setengah cerita, 3/4 cerita, atau bahkan baru hanya pengenalan karakternya saja.

Ah, mungkin Dea hanya sedang tidak mood menulis.

Kamis, 13 Februari 2014

Get well really soon, kakek :*

Get well really soon kakek sayang :'(

Hari ini tepat empat hari sejak kakek masuk rumah sakit yang juga bertepatan empat hari sudah aku kembali ke Bogor. Kakek memang masuk rumah sakit, malam sebelum aku ke Bogor. Aku tahu kakek sakit karena sorenya aku mengantar mama memanggil dokter untuk memeriksa kakek sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit. Kakek muntah-muntah dan badannya dingin saat aku pegang waktu itu. Awalnya aku pikir karena kakek batuk sehingga ketika beliau makan tersedak lalu muntah. Tapi ternyata bukan begitu. Lambung dan usus kakek luka akibat makanan yang tidak terjaga dan jantungnya lemah karena beberapa tahun ini lebih sering tiduran saja dan tidak melakukan banyak hal.

Karena kakek sudah tua dan setiap bagian tubuhnya sudah tidak berfungsi sekuat bagian-bagian tubuhku. Kakek sekarang jadi pemilih makanan. Tidak bisa makan sembarangan karena bisa melukai ususnya. Kakek yang sekarang karena beberapa tahun yang lalu terjatuh dari kamar mandi harus berjuang ekstra keras berjalan dengan menggunakan tongkat. Juga merasakan kakinya yang menjadi bengkak akibat tulang yang patah. Tidak seperti tulang bayi yang baru lahir dapat kemabali tumbuh seiring pertumbuhannya, tulang pinggul kakek sudah tidak bisa tumbuh lagi dan harus puas dipotong akibat retak saat jatuh beberapa tahun silam.

Kakek sudah tidak bisa beraktivitas seperti biasa dengan kaki yang seperti itu. Karena itulah beliau lebih sering dirumah dan tidak melakukan apapun. Terlebih karena kakek sudah pensiun. Padahal dulu setelah pensiun kakek masih sering dan senang sekali pergi ke pasar. Entahlah, hanya membeli buah pepaya keinginanku saja kakek akan pergi ke pasar. Mungkin alasannya lebih dari sekedar menuruti keinginanku. Mungkin kakek senang bernostalgia dengan teman-teman pensiunan lain yang kini membuka toko di pasar, atau karena kakek merasa bosan tidak memiliki kegiatan. Tapi semenjak pensiun dan terjatuh dari kamar mandi ternyata membuat penyakit masa tuanya menjalar lebih cepat; kakek menjadi lebih pelupa. Ketika aku berkunjung libur semester kemarin, kakek berulang kali bertanya aku dari mana setiap lima menit sekali, dan aku jawab dengan jawaban yang sama "aku dari rumah" berkali-kali pula. Atau kakek akan meminta diambilkan minum setelah ia meminta aku mengambilkannya minum sepuluh menit yang lalu. Aku baru tahu bahwa tidak melakukan apa-apa selama beberapa bulan-bahkan tahun- membuat kita mudah lupa.

Dulu kakek seorang polisi. Bukan yang bertugas dijalanan mengatur lalu lintas, tetapi mengurus administrasi di kantor kepolisian. Foto masa mudanya dengan seragam polisi dipajang di ruang tamu rumah nenek. Waktu aku kecil  mama pernah bercerita bahwa dulu kakek sangat gagah dengan seragam dan sepeda onthelnya. Aku percaya itu karena melihat foto kakek yang dipajang di ruang tamu terlihat gagah memakai seragam polisi. Kakek sangat suka mencatat apapun yang dilakukannya (mungkin itu sebabnya beliau menjadi tenaga struktural di kantor kepolisisan dulu) karena kakek sangat teliti. Bahkan sampai saat ini kakek selalu menaruh kertas dan pulpen di dekat tempat tidurnya. Kakek akan menulis apapun. Dulu sih daftar belanja yang harus ia beli di pasar, sekarang? mungkin nomor telepon sanak saudaranya yang masih tersisa ketika datang berkunjung.

Dulu aku sangat senang mendengar cerita kakek tentang kisahnya saat Jepang menjajah, menjadi romusha, dan bercerita tentang teman-temannya dulu di asrama yang katanya sudah banyak yang meninggal. Aku dulu sering mengobrak-abrik laci kakek. Melihat kertas-kertas tagihan yang kakek simpan rapat di lacinya. Ternyata dulu televisi itu bayarnya seperti membayar kredit panci. Seorang petugas akan datang menagih tagihan lalu menuliskan berapa yang sudah dibayar di sebuah kartu kuning yang isinya ada beberapa gambar stasiun televisi yang ada di TV pengguna yang sampai sekarang masih eksis seperti TVRI, RCTI, SCTV. Aku juga pernah menemukan buku berisi foto hitam putih yang jika sekarang disebut buku tahunan sekolah, milik kakek. Ada banyak foto-foto disana dan aku dulu dengan riang-setengah memaksa- kakek untuk menyebutkan satu persatu orang yang ada di foto itu. Meskipun kakek sudah lupa-lupa ingat.

Jika aku datang ke rumah nenek, kakek akan berceloteh panjang lebar tentang masa lalunya, atau sibuk menanyakan bibi yang bekerja di rumahku masuk atau tidak. (aku tahu kakek menanyakan ini karena mama, anaknya, menjadi wanita karir dan sangat repot apabila bibi tidak masuk). Atau ketika aku kuliah di Bogor, kakek akan menanyakan apakah jalan ke Bogor masih rusak? masih banyak pohon? Apakah Bogor dingin? terus terang aku akan menjawab jalan ke Bogor sudah agak lebih baik dari tahun pertama aku masuk. Dulu lubangnya besar-besar yang jika hujan, air akan menggenanginya sehingga mungkin kambing kecil  dapat berenang. Tapi sekarang sudah lebih baik setelah jalananya di beton. Masih banyak pohon? hhmm, sejujurnya jalan kesana agak gersang. Apakah dingin? Aku merasa panas. Dingin hanya malam hari karena aku alergi dingin dan setiap malam aku tidak bisa tidur tanpa selimut. Mungkin satu hal yang belum berubah dari Bogor: Jika hujan, petirnya tetap menggelegar dan menyeramkan. Dan pertanyaan-pertanyaan ini akan kakek ulang setiap aku datang kesana. 

Kata Ua (kakak mama), kakek akan lebih cerewet jika aku datang. Padahal biasanya hanya bersikap acuh lalu tidur sepanjang hari, atau  menyuruh ini itu pada Ua berkali-kali, berulang kali. Aku hanya tersenyum mendengar cerita Ua. Aku hanya berpikir, mungkin kakek butuh teman bicara? Aku juga merasakan kesepian jika di kamar kost dan aku sendirian. Aku bahkan sering menangis jika sendirian. Mungkin kakek hanya kesepian tidak ada teman bicara yang bisa mendengarkan celotehan-celotehannya yang memang seperti anak kecil. Tapi bukankah jika sudah tua, kita akan kembali seperti anak kecil lagi? Meskipun dengan wujud yang lebih keriput dan sikap menjengkelkan yang menyuruh ini itu berulang-ulang. hehehe kadang aku juga gemas sih.

Enin (sebutan untuk nenek) juga begitu. Jika aku datang, ia akan berceloteh banyak hal. menceritakan apa saja (tapi lebih sering menceritakan tingkah kakek yang lucu) Dan kita akan tertawa menertawakan cerita enin tentang kakek yang tiba-tiba di siang bolong, ketika mereka hanya berdua di rumah, dan kakek ingin wingko babat, atau dadar gulung, atau kue satu (kue zaman mama kecil dulu, terbuat dari sagu yang dulu harganya satu perak), Atau menanyakan kabar Fitri di film cinta Fitri, bagaimana kelanjutan ceritanya padaku. padahal aku tidak pernah menontonnya dan yang aku tahu, film cinta Fitri sudah lama tamat. Jadi aku akan bilang, mereka hidup bahagia selamanya. hehehehe. 

Tapi itu dulu. Sekarang kakek dirawat di Rumah sakit. Kata mama kemarin kakek menanyakan aku. Ketika kakek siuman, cucu-cucu dan anak-anaknya yang datang sibuk mengenalkan diri mereka masing-masing. Ketika adik-adikku dan cucunya yang lain bilang "ini siapa?" sambil menunjuk diri mereka sendiri, kakek hanya tersenyum tanda tidak tahu. Tapi kakek menanyakan aku pada mama. Ada perasaan senang juga sedih mendengarnya. Aku senang karena kakek ingat aku. Hahaha. Tapi sedih, karena kakek sudah lupa banyak hal. mungkin ia juga lupa masa lalunya dulu yang sering dengan bangga ia ceritakan padaku. Cerita mama membuat aku ingin pulang dan melihat kakek. Tapi aku tidak bisa karena harus kuliah.

Tapi aku tahu ada hal yang bisa aku lakukan dari tepian jarak yang memisahkan kami. Mama selalu bilang bahwa kekuatan doa sangatlah kuat. Mama juga selalu bilang bahwa setiap doa baik itu akan dijabah Allah. Hanya saja ada beberapa yang harus masuk daftar tunggu, ada juga yang langsung di kabulkan. Aku percaya bahwa doa dapat mendekatkan kami yang jauh. Cepat sembuh kakek sayang. Meskipun sekarang gigi palsu kakek sudah di copot dan agak susah untuk mengerti apa yang kakek bicarakan. Dea akan tetap mendengarkan cerita kakek. Sekedar menanyakan apakah bibi masuk kerja atau Bogor masih dingin apa tidak, tentu saja bisa Dea jawab. Jadi kakek cepat sembuh ya. We love you :*


Rabu, 12 Februari 2014

Bukan sekedar pergi

Holla blogger! 
Setelah kemarin merasa saaangaaaat homesick, sekarang aku benar-benar belajar bahwa aku disini bukan untuk sekedar pergi  dari rumah lalu kembali menjadi diriku yang sama.

Aku jadi teringat praktikum pengembangan masyarakat (pengemas) kemarin. Pertemuan perdana kemarin diawali dengan perjanjian tidak tertulis kami yang aktif di organisasi dan berbagai kegiatan lain diluar perkuliahan untuk tetap fokus pada apa yang sudah menjadi tujuan kami datang ke Bogor: kuliah. Meskipun pada awalnya setiap orang dikelas itu saling pandang dan mengernyit heran karena pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan asisten praktikum bukan merupakan pertanyaan, seperti "kalian sayang orang tua kalian?", "kalian sayang keluarga besar kalian?", "kalian sayang tetangga kalian?", "kalian peduli pada negara kalian?" dan sesuatu hal-hal semacam itu yang menurutku bukan pertanyaan. Siapa sih yang nggak sayang orang tua sendiri? atau siapa sih yang nggak peduli dengan negaranya sendiri? termasuk jika mereka yang sering menghina, atau menjelek-jelekkan. Aku pikir mereka tetap peduli. Peduli dalam artian yang salah!

Balik lagi ke praktikum pengemas. Meskipun awalnya kami bingung, pada akhirnya kami semua mengangguk paham maksud dari asisten praktikum meminta kami untuk menjawab sejujurnya dari hati tentang "pertanyaan" yang beliau ajukan. 

Kami disini memikul harapan yang disampirkan di pundak-pundak kami. Harapan orang tua kami, keluarga besar kami. Bahwa kami membawa nama keluarga kami dan menjadikannya harum serta bangga memiliki kami di salah satu daun pada pohon silsilah keluarga besar mereka. 

Kami disini juga sebagai pembaharu, bisa juga dibilang sebagai perwakilan dari sebagian orang yang tidak bisa mengenyam manis pahit bangku perkuliahan. Mereka menitipkan mimpinya kepada kami-agar suatu saat nanti Indonesia menjadi lebih baik-. Memberdayakan masyarakatnya dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Peduli pada sesama dan jadikan itu sebagai suatu keharusan karena seharusnya mereka, kita, kami, hidup lebih baik, dan merasakan kenyamanan yang sama dalam hidup.

Untuk itulah kami -aku- disini. Dikelas matakuliah Pengembangan Masyarakat, di Institut Pertanian Bogor -dan jika aku bilang di tempat yang jauh dari rumah-. Tapi aku disini bukan sekedar pergi dari rumah lalu kembali menjadi diriku yang sama. Aku seharusnya kembali membawa harapan-harapan bagi mereka yang menitipkan mimpinya padaku, pada kami yang baru saja mengerti bahwa kami di kelas ini bukan karena tuntutan jurusan, dan tentu saja bukan suatu kebetulan. Tapi kami disini karena kami menyayangi orang tua kami, keluarga besar kami, tetangga yang berarti saudara terdekat kami, juga karena kami peduli. Peduli karena kami memerlukan tempat pulang untuk kembali setelah perjalanan menuntut ilmu setinggi bintang. Kembali ke pelukan ibu pertiwi; Indonesia.


Minggu, 09 Februari 2014

Mungkin Seseorang Harus Pergi

Mungkin seseorang harus pergi agar tahu betapa penting menjaga apa yang telah mereka miliki.

Bukan pura-pura tidak peduli dan meninggalkan. lalu ingin kembali.

Mungkin seseorang harus pergi untuk bilang bahwa kesempatan kedua memang ada.

Tapi tidak untuk orang-orang ingkar janji.

Mungkin seseorang harus pergi agar  tahu rasanya kesepian

Agar mereka tidak lagi mencari dan berpindah-pindah sesuka hati

Mungkin seseorang harus pergi untuk ajarkan bahwa menggenggam bukan berarti meremukkan.

Dan melepaskan bukan berarti utuh.

Mungkin seseorang harus pergi mencari setengah dari mereka, lalu membawanya pulang.

Karena waktu bersifat melupakan, jadi seseorang mungkin harus pergi

Mencari setengah dari mereka agar dirinya tidak lupa bahwa ia masih harus menjadi satu untuk tetap bertahan.

Bukan pura-pura menghilang dalam bayangan.


Sabtu, 08 Februari 2014

Feeling Blue

Today, i'm feeling blue..

bukan cuma karena cuaca yang mendung atau sesekali turun hujan rintik-rintik yang membuat hari ini terasa lebih muram. Tapi lebih karena hari ini aku harus kembali ke Bogor. Tempat aku harus meretas mimpi, mencoba menjadi manusia lebih baik, dan tentu saja kembali ke rutinitasku sebagai mahasiswa.

Aku hanya merasa kehidupanku di rumah itu seperti mimpi. seperti aku sekarang harus bangun dan bersiap untuk kehidupan nyata. Aku masih ingin bergelung dibawah selimut dan mendengarkan lagu-lagu, atau sekedar mengecek berbagai akun sosmed milikku sambil tiduran, atau makan sambil menonton tv, atau membaca novel-novel lamaku. Aku tidak ingin kembali ke realita, tapi aku harus.

Aku hanya takut untuk keluar dari zona nyamanku sekarang. Pura-pura tersenyum dan bilang "aku baik-baik saja" di telepon saat orang tuaku bertanya "apa aku baik-baik saja disana?".  Pura-pura bilang "ujiannya bisa kok mah" saat aku tidak tahu pasti aku mengisi apa dan sangat stress takut-takut hasilnya tidak baik. Tidur larut, mengerjakan deadline tugas yang jika aku ingin menggambarkannya seperti sedang memburuku dan mencambuk diriku sekeras mungkin ketika aku berhenti, bahkan untuk mengambil nafas. Aku masih bilang aku baik-baik saja dan aku harap memang begitu.

Setiap hari ketika aku pulang dan duduk di kasur kost-anku aku selalu berfikir apakah ini nyata? aku tidak pernah bermimpi bisa sampai pada tahap ini. Lalu setiap liburan akhir semester aku pulang dan mendapati diriku berpikir sama apakah ini nyata? aku di rumah, bergelung dibawah selimut, menonton TV, membaca novel setiap hari. apakah ini nyata? jadi sebenarnya yang nyata itu dimana?

Aku sangat merasa takut, bingung, sedih ketika harus meninggalkan mimpi ini dan berlanjut ke mimpi-mimpi lainnya. Hanya saja yang tampak nyata sekarang adalah seabrek kegiatan yang aku sendiri bingung harus aku mulai dari mana untuk menyelesaikannya.

Memang tidak selalu tampak menakutkan. Aku bertemu dengan orang-orang baru yang menyenangkan. menawarkan persahabatan dan kami tertawa seharian. Menertawakan banyak hal hingga menertawakan diri kami sendiri. Tapi dilain waktu disaat aku sendiri, aku tetap merasa sedih, kesepian, dan aku tidak tahu harus melakukan apa selain menatap langit-langit kamarku dan menangis. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku tangisi dan aku hanya menangis. Menangisi semua ketakutanku mungkin dan berharap dia hilang saat aku membuka mata.

Mereka memang hilang, tapi kembali lagi. Seperti ada bagian dari diriku yang menarik mereka dan aku menangis lagi. Aku tidak bilang kepada orang tuaku karena aku takut mereka khawatir. Tapi alasanku lebih karena aku tidak tahu harus menjawab apa ketika mereka menanyakan "ada apa?" karena sejujurnya aku pun tidak tahu aku merasakan apa. Aku hanya merasa ingin menangis dan aku menangis. Seperti ada lubang yang menganga dalam hatiku dan aku merasa sesak setiap kali menatap langit-langit kamarku, atau tembok putih, atau langit biru yang luas dari atap rumahku. Aku merasa kecil dan sendirian, dan aku benci perasaan ini. Aku selalu takut jika sendirian.

Dan perasaan itu datang lagi jika aku kembali ke kamar kost kecil dan menatap langit-langit kamarku. Aku merasa sangat homesick dan aku tidak bisa mengatasinya karena menelepon rumah sama halnya membuatku lebih ingin pulang. Jadi aku menulis disini. Aku hanya berharap perasaan itu hilang ketika aku mengetikkan kalimat terakhir pada tulisan ini dan aku berharap aku akan merasa lebih baik. Karena memang itu kenyataannya. Aku merasa lebih baik setelah ini.



Kamis, 06 Februari 2014

Insomnia~



Aku tidak bisa tidur. Sebenarnya sejak jam satu tadi aku sudah tidak bisa kembali memejamkan mata dan melanjutkan tidur. Aku merasa seperti seorang yang terkena jet-lag. Well, tadinya aku hanya bergelung-gelung di kasur, lalu menatap jam lagi, berpindah posisi, membetulkan selimut, melihat jam lagi. aku merasa sangat bosan dan akhirnya memutuskan untuk membaca novel-novel lamaku kembali.
Aku membaca novel Ilana Tan lagi. judulnya spring in London. Aku membacanya dengan cepat karena sudah tahu isi novelnya dan aku hanya ingin membaca bagian yang aku sukai saja.
Jadi, disinilah aku sekarang. Menatap laptop usang yang sedang di charger dan mengetik artikel ini. hehehehe. Tadinya aku berniat untuk mengerjakan tugasku sebagai tim redaksi majalah komunitas. Tapi aku merasa malas. Padahal aku hanya perlu mengirimkan jadwalku, lalu cerita pendek liburan selama tiga mingguku di rumah –yang aku tidak bisa bilang ini liburan- karena aku terserang demam, juga tugas pengisian konten-konten majalah yang deadlinenya minggu nanti.
Aku sebaiknya pergi tidur sekarang, karena sebentar lagi shubuh. Tapi, jika aku tidur sekarang, aku akan telat sholat shubuh. Yah.. begitulah kegalauan di pagi buta. Mungkin aku harus menunggu sampai adzan, kemudian sholat dan melanjutkan tidurku yang tertunda.
Ngomong-ngomong, aku akan blog walking sambil menunggu adzan shubuh yang kira-kira akan berkumandang 45 menit lagi. Hehehe. Siapa tahu ada blog yang benar-benar menginspirasiku mengerjakan konten majalah. See you soon readers.

Regard
Dea