Minggu, 12 Februari 2017

Kedai Kopi



Dira menyesap kopinya lambat-lambat, menghirup aromanya terlebih dahulu sebelum meneguknya dengan nikmat. Hari ini ia ingin bersantai. Sudah satu jam ia duduk sembari menunggu Tasya yang katanya sedang menuju dari kantornya satu jam yang lalu. 

Hari ini Dira cuti. Sengaja mengambil libur untuk beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan yang sudah dilakoninya sejak dua tahun yang lalu. Pekerjaan yang sengaja ia ambil untuk menutupi pekerjaannya yang lain: melupakan.

Dira tidak pernah mengira bila rasanya bisa sesakit ini. Bahkan ia masih ingat dengan jelas suara laki-laki itu. Dira masih sadar orang itu ada disekitarnya meskipun ia sedang berada di keramaian. Separah itukah pengaruh laki-laki itu? Kali ini Dira meletakkan cangkir kopinya perlahan. Jengah untuk menunggu, kemudian matanya berkeliling. 

Ini rabu pagi yang tergolong sepi untuk ukuran kedai kopi ditengah gedung-gedung perkantoran. Biasanya pengunjungnya lebih banyak dari ini, namun hari ini Dira masih bisa melihat space kosong di kedai kopi favoritnya. Tidak berapa lama sebuah mobil mewah berhenti di depan kedai. Kemudain dua orang laki-laki turun dari mobil hitam yang Dira yakin harganya tidak kurang dari lima milyar itu. Semua orang dalam kedai tanpa dikomando menoleh. Mereka langsung berbisik-bisik tentang siapa yang datang. Mau tidak mau Dira ikut memperhatikan sosok yang keluar dari mobil mewah itu. Dia adalah Rio, seorang artis sekaligus pengusaha paling digandrungi semua kalangan dari anak-anak hingga orang tua. Kepiawaiannya bermain film hingga menghantarkannya membuka bisnis dari mulai fashion, makanan, hingga produksi film yang baru dirilisnya. 

Dira berdecak kagum. Dia selalu suka sosok Rio di televisi, terlihat humble dan menarik. Film-film yang dibintanginya pun bukan film biasa. Image nya terlihat sangat baik dimata publik. Sesaat setelah Rio memesan dan duduk di kursinya, berbondong-bondong orang memintanya untuk berfoto bersama. Dira tersenyum dalam hati, resiko publik figur? Dira bahkan menghitung, Rio baru menyesap kopinya sebanyak dua tegukan dan ia sudah berfoto lebih dari 10 orang.

Kalau boleh dibilang, Dira juga menjadi fans berat Rio. Akting Rio tidak pernah gagal menurut Dira, tapi untuk mengganggu acara bersantai Rio demi sebuah foto? Dira tidak ingin.. Ia sudah belajar bahwa menyukai seseorang bukan berarti memaksanya untuk melakukan seseuatu untuknya. Kemudian seketika Rio menoleh ke arah Dira, mata mereka berpapasan. Dira semakin tidak enak karena telah terpergok memperhatikan Rio sedari tadi. Ia memutuskan untuk tersenyum dan mengangguk. Rio membalas dengan senyum kemudian ia berdiri, lalu berjalan ke arah Dira.

Merasa idolanya beranjak pergi, semua orang ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Rio yang sedang berjalan ke arah seorang wanita.

“Hallo.” Rio tersenyum ketika sampai di meja Dira

“Oh.. hai..” Dira balas tersenyum kikuk.