Dira menyesap kopinya
lambat-lambat, menghirup aromanya terlebih dahulu sebelum meneguknya dengan
nikmat. Hari ini ia ingin bersantai. Sudah satu jam ia duduk sembari menunggu
Tasya yang katanya sedang menuju dari kantornya satu jam yang lalu.
Hari ini Dira cuti.
Sengaja mengambil libur untuk beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan yang
sudah dilakoninya sejak dua tahun yang lalu. Pekerjaan yang sengaja ia ambil
untuk menutupi pekerjaannya yang lain: melupakan.
Dira tidak pernah
mengira bila rasanya bisa sesakit ini. Bahkan ia masih ingat dengan jelas suara
laki-laki itu. Dira masih sadar orang itu ada disekitarnya meskipun ia sedang
berada di keramaian. Separah itukah pengaruh laki-laki itu? Kali ini Dira
meletakkan cangkir kopinya perlahan. Jengah untuk menunggu, kemudian matanya
berkeliling.
Ini rabu pagi yang
tergolong sepi untuk ukuran kedai kopi ditengah gedung-gedung perkantoran.
Biasanya pengunjungnya lebih banyak dari ini, namun hari ini Dira masih bisa
melihat space kosong di kedai kopi favoritnya. Tidak berapa lama sebuah mobil
mewah berhenti di depan kedai. Kemudain dua orang laki-laki turun dari mobil
hitam yang Dira yakin harganya tidak kurang dari lima milyar itu. Semua orang
dalam kedai tanpa dikomando menoleh. Mereka langsung berbisik-bisik tentang
siapa yang datang. Mau tidak mau Dira ikut memperhatikan sosok yang keluar dari
mobil mewah itu. Dia adalah Rio, seorang artis sekaligus pengusaha paling
digandrungi semua kalangan dari anak-anak hingga orang tua. Kepiawaiannya
bermain film hingga menghantarkannya membuka bisnis dari mulai fashion,
makanan, hingga produksi film yang baru dirilisnya.
Dira berdecak kagum.
Dia selalu suka sosok Rio di televisi, terlihat humble dan menarik. Film-film
yang dibintanginya pun bukan film biasa. Image nya terlihat sangat baik dimata
publik. Sesaat setelah Rio memesan dan duduk di kursinya, berbondong-bondong
orang memintanya untuk berfoto bersama. Dira tersenyum dalam hati, resiko
publik figur? Dira bahkan menghitung, Rio baru menyesap kopinya sebanyak dua
tegukan dan ia sudah berfoto lebih dari 10 orang.
Kalau boleh dibilang,
Dira juga menjadi fans berat Rio. Akting Rio tidak pernah gagal menurut Dira,
tapi untuk mengganggu acara bersantai Rio demi sebuah foto? Dira tidak ingin..
Ia sudah belajar bahwa menyukai seseorang bukan berarti memaksanya untuk
melakukan seseuatu untuknya. Kemudian seketika Rio menoleh ke arah Dira, mata
mereka berpapasan. Dira semakin tidak enak karena telah terpergok memperhatikan
Rio sedari tadi. Ia memutuskan untuk tersenyum dan mengangguk. Rio membalas
dengan senyum kemudian ia berdiri, lalu berjalan ke arah Dira.
Merasa idolanya
beranjak pergi, semua orang ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Rio yang
sedang berjalan ke arah seorang wanita.
“Hallo.” Rio tersenyum
ketika sampai di meja Dira
“Oh.. hai..” Dira balas
tersenyum kikuk.