Minggu, 15 April 2018

Perdebatan

Pernah gak sih, kamu ada di satu titik, dimana sebagian dari kamu ingin berhenti? Tapi sebagian lain tidak ingin menyerah?

Aku pernah.. dan masih.

Aku ada dititik, dimana aku benar- benar lelah.
Lelah berada di circle, dimana aku merasa bahwa ini bukan 'tempatku'. Seharusnya aku bukan disini. Seharusnya aku tidak begini.

Tapi kemudian aku tersadar, bahwa jika tidak begini, maka bagaimana aku?
Jika seharusnya aku bukan ada disini, maka dimana seharusnya aku?

Dan dititik ini, sebagian dari aku tidak ingin berhenti. Sebagian dari diriku ingin bertahan.
Sebagian dari aku tidak ingin melarikan diri.
Sebagian dari aku masih ingin berjuang.

Tapi keadaannya tidak sesederhana itu...


Minggu, 12 Februari 2017

Kedai Kopi



Dira menyesap kopinya lambat-lambat, menghirup aromanya terlebih dahulu sebelum meneguknya dengan nikmat. Hari ini ia ingin bersantai. Sudah satu jam ia duduk sembari menunggu Tasya yang katanya sedang menuju dari kantornya satu jam yang lalu. 

Hari ini Dira cuti. Sengaja mengambil libur untuk beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan yang sudah dilakoninya sejak dua tahun yang lalu. Pekerjaan yang sengaja ia ambil untuk menutupi pekerjaannya yang lain: melupakan.

Dira tidak pernah mengira bila rasanya bisa sesakit ini. Bahkan ia masih ingat dengan jelas suara laki-laki itu. Dira masih sadar orang itu ada disekitarnya meskipun ia sedang berada di keramaian. Separah itukah pengaruh laki-laki itu? Kali ini Dira meletakkan cangkir kopinya perlahan. Jengah untuk menunggu, kemudian matanya berkeliling. 

Ini rabu pagi yang tergolong sepi untuk ukuran kedai kopi ditengah gedung-gedung perkantoran. Biasanya pengunjungnya lebih banyak dari ini, namun hari ini Dira masih bisa melihat space kosong di kedai kopi favoritnya. Tidak berapa lama sebuah mobil mewah berhenti di depan kedai. Kemudain dua orang laki-laki turun dari mobil hitam yang Dira yakin harganya tidak kurang dari lima milyar itu. Semua orang dalam kedai tanpa dikomando menoleh. Mereka langsung berbisik-bisik tentang siapa yang datang. Mau tidak mau Dira ikut memperhatikan sosok yang keluar dari mobil mewah itu. Dia adalah Rio, seorang artis sekaligus pengusaha paling digandrungi semua kalangan dari anak-anak hingga orang tua. Kepiawaiannya bermain film hingga menghantarkannya membuka bisnis dari mulai fashion, makanan, hingga produksi film yang baru dirilisnya. 

Dira berdecak kagum. Dia selalu suka sosok Rio di televisi, terlihat humble dan menarik. Film-film yang dibintanginya pun bukan film biasa. Image nya terlihat sangat baik dimata publik. Sesaat setelah Rio memesan dan duduk di kursinya, berbondong-bondong orang memintanya untuk berfoto bersama. Dira tersenyum dalam hati, resiko publik figur? Dira bahkan menghitung, Rio baru menyesap kopinya sebanyak dua tegukan dan ia sudah berfoto lebih dari 10 orang.

Kalau boleh dibilang, Dira juga menjadi fans berat Rio. Akting Rio tidak pernah gagal menurut Dira, tapi untuk mengganggu acara bersantai Rio demi sebuah foto? Dira tidak ingin.. Ia sudah belajar bahwa menyukai seseorang bukan berarti memaksanya untuk melakukan seseuatu untuknya. Kemudian seketika Rio menoleh ke arah Dira, mata mereka berpapasan. Dira semakin tidak enak karena telah terpergok memperhatikan Rio sedari tadi. Ia memutuskan untuk tersenyum dan mengangguk. Rio membalas dengan senyum kemudian ia berdiri, lalu berjalan ke arah Dira.

Merasa idolanya beranjak pergi, semua orang ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Rio yang sedang berjalan ke arah seorang wanita.

“Hallo.” Rio tersenyum ketika sampai di meja Dira

“Oh.. hai..” Dira balas tersenyum kikuk.                                 

Sabtu, 31 Desember 2016

HAPPY NEW YEAR!!

Gak kerasa, ternyata satu tahun sudah berlalu. Tinggal menghitung jam, 2016 akan berganti menjadi 2017. Instagramku pun sudah dibanjiri  kolase 9 foto kekinian yang disebut #bestnine beserta harapan-harapan  pada caption yang menyertainya.

2016 akan berganti..

Tahun baru...

Harapan baru...

Rasanya baru kemarin aku menyelesaikan bab terakhir skripsiku yang penuh drama. Deg-deg an mengantri presentasi sidang, sampai ribetnya mempersiapkan wisuda.

Sekarang? lagi leyeh-leyeh makan buah nanas sambil ngetik. 

Niatnya mau nyoba nulis-nulis lagi. Mupeng liat temen kok blognya makin hari makin bagus, menarik, dan edukatif. wkwkwk Tapi kok dari tadi yang aku kerjain cuma hapus-ketik-hapus-ketik. Kayak orang lagi PDKT aja.

Ternyata kalau udah lama gak nulis itu kayak gini. Bawaannya kok gak pas terus sama tulisan sendiri. Padahal banyak hal yang mau diceritain, tapi gak nemu rangkaian kata yang pas. 

Mungkin Dea kebanyakan belajar akuntansi sampe kaku buat sekedar nulis blog. Maunya nulis panjang tapi dari tadi malah ketik hapus-ketik-hapus kayak orang pacaran. Pacaran aja gak gini-gini amat deh kayaknya.

Inttinya guys...
Selamat tahun baru. Semoga resolusinya di tahun 2016 kemarin tercapai, semoga resolusi tahun 2017 bisa dijalankan dengan istiqamah.


Salam
 Dea





Rabu, 06 Januari 2016

10:35

Jujur.. setelah melewati tiap fase hidup, semakin sulit buat gue untuk nulis. Iya.. dulu gue bisa aja nulis apapun yang gue rasain di blog. Sekedar curhat tentang diri pribadi baik kebahagiaan atau tantangan yang sedang dihadapi. Iya.. dulu gue semudah itu buat cerita sama orang lain. Tapi sekarang gue rasa sulit. Semakin kesini, gue semakin paham bahwa gak semua orang ada di pihak gue. Yang paling gue takutin adalah orang-orang yang pura-pura berada di pihak gue. Berdiri sedekat-dekatnya dengan gue, tapi cuma buat bikin gue jatuh. 

Adakalanya gue pengen berhenti. Berhenti memasukan orang lain lebih dekat ke lingkaran kehidupan gue. Berhubungan sekedarnya... Dikecewakan sekedarnya juga.
Gue pernah baca sebuah quote, kalau yang paling pahit adalah kekecewaan yang didatangkan dari orang yang paling lo percaya. Dan itu bener. Kadang gue pengen berhenti buat se-open itu sama orang. Karena gak semua orang menerima gue apa adanya. Karena setiap orang datang dan pergi. Kadang gue pengen berhenti buat menceritakan apapun masalah yang gue hadapin sama orang, karena bahkan sebenarnya mereka gak peduli. 
Karena kita gatau mana kawan mana lawan. Atau kawan yang sebenarnya lawan. Atau lawan yang sebenarnya kawan.
Gue pernah baca, bahwa manusia itu seharusnya mencintai sekedarnya, dan membenci sekedarnya. Karena yang berlebihan itu sekalipun baik akan menjadi buruk. Lirik lagunya opick bahkan mengingatkan gue, kalau nanti, sesungguhnya teman sejati kita cuma amal kita. Bahkan teman hidup yang sering kita banggakan di ketika di dunia pun belum tentu menjadi teman hidup di akhirat nanti. Mama gue pernah bilang, "Semua orang hidup itu punya kepentingan. Sulit sekali mencari  yang benar-benar tulus. Kalau kamu mendapatkannya, satu orang sudah cukup karena dia tetap berada disisi kamu apapun yang terjadi. Tapi akan lebih baik kalau kamu jadi yang salah satunya.
Gue tau gue gak bisa ngeluh, karena toh gue juga belum baik. Belum jadi salah satu dari orang "tulus" itu. Makanya, yang sekarang bisa gue lakuin adalah untuk jadi lebih baik. Mungkin gue bakalan jadi Dea yang beda 180 derajat lima tahun yang akan datang. Mungkin kalian bakalan melihat gue berbeda dari Dea yang kalian kenal. People change.. dan gue menghargai setiap proses perubahan. 
Mungkin Dea yang sekarang takut untuk menulis lebih banyak. Mungkin sekarang Dea lagi punya krisis kepercayaan. Tapi gatau besok...

Selasa, 14 April 2015

Random mind after watching Divergent~

Holla blog, long time no see, ya. Ah, sebenarnya saya sering mampir ke blog ini, tapi gak ada niatan nulis sedikitpun. Selain tulisan tuntutan tugas, saya rada males buat cerita-cerita lagi di blog. hehehe

Kenapa?

Karena banyak faktor sebenarnya. Dan yang mendapati peringkat pertama adalah karena saya disibukan banyak hal di kehidupan nyata. Tapi sekarang saya datang untuk memulai kembali kebiasaan lama saya *laugh devil*

By the way, baru saja saya selesai menonton film Divergent. Saya tahu ini terlalu ketinggalan jaman banget buat nonton film ini disaat Fast Furious 7 udah tayang di bioskop. Tapi izinkan saya berbagi cerita.

Saya selalu suka kisah fiksi fantasi, entah itu berbentuk cerita kerajaan atau keadaan di masa depan, atau bisa jadi suatu keadaan yang dibayangkan oleh pengarangnya. Bagi saya, menulis kisah berbau fantasi akan 10 kali lebih sulit ketimbang menulis cerita biasa. Dan saya selalu kagum dengan pemikiran para penulis cerita ini yang dapat berpikir out of the box dari orang-orang kebanyakan.

Singkatnya, cerita ini mengisahkan tentang suatu dunia yang masyarakatnya terbagi menjadi lima faksi. Kemudian diantara mereka ada yang menjadi pencilan, entah menjadi non faksi (tidak termasuk faksi manapun) atau menjadi Divergent (sebutan untuk seseorang yang memiliki kelima faksi tersebut). Perkenalkanlah kelima faksi tersebut : Eritude dengan pemikirannya yang cemerlang-ilmu pengetahuan adalah sahabatnya-, Abnegation dengan sifatnya yang tidak mementingkan diri sendiri, Amity dengan kebaikannya dan keinginan mereka untuk tetap harmonis, Candor dengan kejujurannya, dan Dauntless dengan keberaniannya. Dunia dalam film ini terbagi menjadi kelima faksi tersebut. Dan setiap manusia, diharuskan untuk memilih-dan dipilih, faksi mana yang akan menjadi tempat hidup mereka setelahnya. Dan perlu digaris bawahi, bahwa pembagian faksi ini berada diatas keluarga. Darimanapun asalmu, keluargamu bukan lagi menjadi bagian dari keluargamu ketika kamu berpindah faksi (bukankah itu menakutkan?).
Tentu saja dari mereka ada yang menyimpang. Orang-orang dengan "kelainan" ini disebut Divergent. Mereka memiliki kelima faksi dalam diri mereka. Dan kelimanya sangatlah kuat.

Pada dua puluh menit pertama, saya harus bilang bahwa adegan ini mengingatkan saya  pada film Harry Potter. Dimana, mahasiswa baru hogwarts harus memasuki tahap memilih-dan dipilih, pada golongan mana mereka nantinya. Tapi, yang membuat saya nyeeesss.. adalah, ada satu keluarga-keluarga anggota dewan- dari faksi abnegation, yang anak-anak mereka tidak memiliki masuk ke dalam faksi mereka lagi. Untuk saya yang sedang homesick dan baper (bawa perasaan), hal ini memicu tangis saya. Karena... yeah, adegan ini sedikit mirip dengan adegan ketika saya harus pergi meninggalkan orang tua saya menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Dan pada akhirnya, seorang anak di belahan dunia dalam film divergent ini,  yang harus memilih. Faksi mana yang mereka inginkan, dan mereka harus survive di dalamnya.
Sejujurnya, tiap adegan dalam film ini mengingatkan saya pada mata kuliah Pendidikan Orang Dewasa (POD) oh god, please dont remaind me about that. Tapi serius. Ketika kita memilih suatu pilihan, kita harus berusaha survive di dalamnya bukan? Dan.. inilah kisah Beatrice, atau Tris-seorang anak dari keturunan Abnegation, yang ternyata seorang Divergent, dan harus berusaha survive untuk menjadi seorang Dauntless karena itu adalah pilihannya-.

Ribet?

No.. masih ribetan dunia nyata. hahahaha

Jadi, karena "kelainannya" ini, Tris harus merahasiakan identitasnya, karena jika ketahuan, dia akan mati dibunuh.

Saya langsung mikir, kenapa sih harus dibunuh? bukannya bagus ya jadi divergent?  Sama kayak avatar yang punya semua elemen, jadi dia bisa memimpin negeri dalam keseimbangan, karena dia punya semua elemennya?
HAHA.. nyatanya setiap pemikiran manusia itu berbeda-beda. Dan sayangnya, petinggi-petinggi tiap faksi, khususnya faksi Erutide dan Dauntless menganggap bahwa mereka yang "berbeda" menjadi ancaman dan harus di singkirkan. Karena mereka tidak bisa untuk  di tertibkan. (hhhmmmm makin serem aje ini film).
Setelah dari adegan ini, adegan-adegan selanjutnya adalah perang, baku tembak, saling menyelamatan-dll. tapi bukan itu yang mau saya tonjolkan disini. meskipun bagian itu juga yang saya sukai.

Saya suka bagian Four bilang pada tris bahwa ia tidak ingin menjadi satu faksi saja. Ia tidak ingin menjadi Dauntless saja, tapi ia ingin memiliki sifat kelimanya. Ketika membicaraka tatto milik Four yang menggambarkan 5 faksi.
Entahlah, mungkin kedengarannya aneh, tetapi ketika saya menonton film ini, yang ada di pikiran saya adalah, bahwa bagaimana anak berkebutuhan khusus hidup? Anak-anak dengan masyarakat sebut "Autis". Bukankah mereka juga memiliki "kelebihan" dan di cap sebagai pencilan oleh masyarakat awam? hhhmmm.. itu hanya segelintir pemikiran absurd yang muncul ketika menonton film ini. Hampir sama kasusnya dengan pemikiran matakuliah POD ditengah-tengah menonton.

Anyway.. mungkin ini juga tidak ada hubungannya, tetapi saya berpikir bahwa Divergent sama dengan Ambivert. it's no offense. But yeah, i told you kalo saya Ambivert kan? Saya pernah bilang hal itu sangat menakutkan, ketika saya tidak tahu bahwa saya Ambivert. Saya takut saya tidak diterima pada dua kepribadian yang manusia awam percayai (Introvert, atau Ekstrovert). Kemudian saya memilih untuk menjadi Ekstrovert dan berusaha survive didalamnya. (hell yeah.. salah satu buktinya adalah saya masuk jurusan komunikasi). Tapi.. bukankah yang seharusnya kita lakukan adalah menerima bahwa kita ambivert dan menjalani sesuai dengan apa yang kita yakini kan? Berpura-pura  menjadi orang ekstrovert dan tidak merasa nyaman, atau berpura-pura menjadi seorang introvert, tapi aku juga membenci sendirian? what world is going now, eh? hehehe

Oh iya, ini ada foto hasil kuis iseng saya beberapa waktu lalu. Saya penasaran, masuk faksi manakah saya, jika saya berada pada dunia yang diceritakan dalam film Divergent. Dan, tadaaa.... here the result

I'm Divergent :p

Hihihi.. thank you udah baca tulisan gak penting dan gak jelas ini sampai selesai. Gluck for us :) bye, see you next post.



Regard

Dea



Rabu, 04 Maret 2015

Magang Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan 1: And i choose, AIESEC.



            Menjadi mahasiswa Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat itu menurut saya mengajarkan banyak hal dalam esensi hidup, pun dalam tiap mata kuliah yang disisipkan tiap semesternya. Banyak sekali pelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tapi juga bersifat terapan untuk kehidupan sehari-hari. Seperti pada semester enam ini saya mendapat mata kuliah Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan atau biasa disebut KOK. Yang saya suka dari mata kuliah ini adalah bagaimana mahasiswanya diminta untuk mengembangkan soft skill pun hanya satu semester dengan magang di sebuah organisasi atau lembaga yang belum pernah diikuti sebelumnya. Dan untuk program magang itu, saya memilih AIESEC. Kenapa harus AIESEC?
            Saat diminta untuk memilih organisasi atau lembaga mana yang akan dipilih untuk program magang selama satu semester kedepan, beberapa organisasi sempat terlintas di benak saya. Namun akhirnya saya memilih AIESEC. Kenapa harus AIESEC? Pertama, karena saya ingin melanjutkan studi, atau memiliki pengalaman studi ke luar negeri. Dan AIESEC salah satu organisasi yang mewadahi para mahasiswa untuk mewujudkan hal tersebut. Mama saya pernah bilang, ketika kita punya mimpi, kejar dan pelajari apa yang harus dilakukan untuk menggapai mimpi-mimpi tersebut. Dan menurut saya, bergabung dengan AIESEC menjadi salah satu cara untuk saya mengetahui bagaimana prosedur seorang mahasiswa sampai ke luar negeri. Memang benar, khususnya di IPB sendiri banyak sekali organisasi atau lembaga lain yang mewadahi mimpi-mimpi studi keluar negeri selain AIESEC. Namun, sepanjang yang saya ketahui hingga saat ini adalah bahwa AIESEC berfokus pada environment, dan karena masalah lingkungan menjadi isu yang belum tuntas hingga saat ini, saya menjadi tertarik untuk mengetahui, bagaimana sih cara-cara mahasiswa seluruh dunia untuk menjawab tantangan global ini. Itu menjadi alasan kedua saya memilih untuk magang di AIESEC. Alasan yang ketiga adalah, karena AIESEC sudah tersebar di 125 negara di dunia. Dan karena ini adalah mata kuliah Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan saya ingin mengetahui bagaimana cara orang-orang di dalam AIESEC untuk mengatur anggotanya yang tersebar di berbagai negara dan bisa berkembang, serta bertahan hingga saat ini. Dan saya yakin mereka adalah orang-orang hebat, sehingga saya tertarik untuk belajar dari mereka.
            Bagaimana perjalanan saya selama magang disana? Apa sisi lain dari AIESEC yang kita kenal? Bagaimana sih prosedur untuk exchange keluar negeri? Bagaimana strugle-nya orang-orang dibalik keberangkatan seorang mahasiswa untuk exchange ke luar negeri, akan saya post secara berkala di blog ini. And for your information, saya masuk departemen OGCDP (Outgoing Exchange Development Program). Nah, apalagi itu departemen OGCDP akan saya jelaskan di postingan selanjutnya. See you in next post :)



Regard
Dea