Kamis, 20 Februari 2014

Mungkin..

Mungkin ada saatnya seseorang akan merasa nyaman berada ditengah-tengah orang yang tidak dia kenal dan tidak mengenal dia seperti kamu mengenalnya.

Mungkin ada saatnya seseorang akan merasa nyaman hanya diam ditengah kebersamaan kalian.

Mungkin ada saatnya seseorang akan merasa bahwa bicara terlalu banyak, tersenyum terlalu banyak hanya akan menguak luka.

Mungkin ada saatnya seseorang hanya ingin ditemani, bukan diceramahi.

Mungkin ada saatnya yang kamu harus lakukan hanya bersisian duduk bersamanya. Tanpa menyela, tanpa bicara. Hanya duduk dan kamu tahu semuanya akan baik-baik saja.

Mungkin ada saatnya seseorang akan menjadi lebih sensitif, perasa, dan kamu hanya perlu memegang pundaknya, dan bilang bahwa dia bisa dan jangan pernah menyerah.

Mungkin seseorang itu harus berhenti untuk menyenangkan orang lain. Berhenti berpikir bahwa orang lain tidak menyukainya, berhenti berasumsi bahwa ia diasingkan, berhenti bilang ia tidak perduli, padahal ia kesepian.

Karena yang seharusnya ia lakukan adalah berbuat baik kepada orang lain, bukannya selalu menyenangkan orang lain. Atau berpikir bahwa ia akan disukai jika berbuat seperti yang orang lain fikirkan. Bukan begitu seharusnya.

Rabu, 19 Februari 2014

dududududu syaalalalalala~

Holla Blog!

Minggu ini-oh bukan-, bulan ini adalah bulan yang paling HECTIC dududu syalalallaa~. dimulai dari semua deadline acara yang puncaknya bulan Maret. otomatis bulan Februari ini jadi harus kerja lebih extra banget.

Kalau udah rapat sampe malem, tugas belum kelar, besoknya kuis, rasanya udah mikir salah banget ikut-ikut kegiatan kayak gini.

Tapi setiap usaha bakalan ada hasilnya kan ya? karena sekarang gue lagi berusaha, mudah-mudahan hasilnya baik. Aamin.

Udah segitu aja curhatnya. bye Blog. dadaaaaaaah~

Regard

Dea

Selasa, 18 Februari 2014

"Dunia ini milik Allah. Tidak ada yang bisa membuat kita tidak nyaman, tidak terkecuali, tanpa seizin kita."-Anonim


Sabtu, 15 Februari 2014

Hallo (bye) Mata Panda

"It's not enough to be busy, so are the ants. The question is, what are we busy about?"- Henry David Thoreau
Sering banget ngerasa sibuk. Tugas gak beres-beres, tidur pagi (alasan ngerjain tugas), kuliah full sampe sabtu, pulang ke kost an malem terus, rapat sana sini, deadline udah ngejar-ngejar kayak mau nyakar and bla..bla..bla yang ngerasa kok gue capek banget sih? Padahal kalau dipikir-pikir, itu gak se memakan waktu yang banyak banget sampai jam tidur berantakan, dikejar-kejar deadline, ngerasa stress tiap hari minggu karena tugas deadline hari senin dan belum dikerjain satu paragraf pun. 

Itu karena gue sering nunda-nunda tugas, atau ngerjain hal-hal yang gak penting, yang gak ada hubungannya sama kerjaan gue, atau juga hilang fokus waktu ngerjain tugas ke hal-hal yang sebenarnya gak terlalu penting dan urgent dalam waktu dekat.

Dan masalahnya berputar-putar disitu aja kayak lingkaran setan. Semua masalah berakar dari hal-hal remeh yang gue lakuin sebenarnya. Tapi gak gampang buat menghilangkan kebiasaan itu. Quote-quote motivasi aja udah berantakan gue tempelin di kamar, berharap jadi mantra tiap gue bangun tidur dan inget kalau harus ngerjain tugas cepet. Kamar udah mirip papan pengumuman jadinya. Tapi hal baik emang gak selalu mudah untuk dijalani. Adaaaa aja faktor X yang bikin males ngerjain tugas cepet. 

Sampai akhirnya, hallo mata panda *gaya iklan kosmetik* Resolusi 2014nya harus sudah mulai berjalan nih. biar tag line nya bye bye mata panda :))  

Jumat, 14 Februari 2014

Ceritanya lagi bingung mau nulis apa

Ketik, hapus, ketik, hapus, ketik, hapus. 
Begitu seterusnya sampai jam segini (23.40 WIB) tugas belum ada yang selesai. Sudah setengah halaman menulis, kemudian aku baca ulang. Tapi setelahnya aku merasa itu terlalu ewh.. tulisan yang aneh, lalu aku akan menghapusnya dan memulai menulis kata-kata yang baru. Namun proses sebelumnya terulang kembali dan akhirnya, sampai detik ini aku belum selesai menuliskan satu pragraf pun untuk laporan. Padahal teman satu kelompok sudah menagih deadline bagianku untuk disusun menjadi laporan yang seutuhnya.

Tidak seperti menulis cerita, menulis laporan itu lebih rumit. Kata-kata yang digunakan harus sesuai, tinjauan pustaka, konten isi, dan bla bla bla. Belum lagi format penulisan harus benar, jika ada kutipan harus menulisnya sesuai dengan kaidah pengkutipan, menyusun daftar pustaka yang benar dan lain sebagainya. Tapi menulis cerita juga terkadang sulit sih. Aku harus mengeluarkan seluruh imajinasiku dan menuliskannya dalam tulisan yang hidup agar pembaca mengerti. Tidak jarang aku akan menatap kosong layar laptop sambil memikirkan kalimat apa yang akan aku tulis. Lalu jika tidak menemukan ide sampai beberapa jam kemudian, aku akan beralih ke media sosial dan curhat-curhat gak jelas, atau yang lebih parah meninggalkan tulisannya dan membiarkannya mengendap lama di folder laptop. Mengingat banyak sekali cerpen-cerpen dan draft novel yang hanya setengah cerita, 3/4 cerita, atau bahkan baru hanya pengenalan karakternya saja.

Ah, mungkin Dea hanya sedang tidak mood menulis.

Kamis, 13 Februari 2014

Get well really soon, kakek :*

Get well really soon kakek sayang :'(

Hari ini tepat empat hari sejak kakek masuk rumah sakit yang juga bertepatan empat hari sudah aku kembali ke Bogor. Kakek memang masuk rumah sakit, malam sebelum aku ke Bogor. Aku tahu kakek sakit karena sorenya aku mengantar mama memanggil dokter untuk memeriksa kakek sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit. Kakek muntah-muntah dan badannya dingin saat aku pegang waktu itu. Awalnya aku pikir karena kakek batuk sehingga ketika beliau makan tersedak lalu muntah. Tapi ternyata bukan begitu. Lambung dan usus kakek luka akibat makanan yang tidak terjaga dan jantungnya lemah karena beberapa tahun ini lebih sering tiduran saja dan tidak melakukan banyak hal.

Karena kakek sudah tua dan setiap bagian tubuhnya sudah tidak berfungsi sekuat bagian-bagian tubuhku. Kakek sekarang jadi pemilih makanan. Tidak bisa makan sembarangan karena bisa melukai ususnya. Kakek yang sekarang karena beberapa tahun yang lalu terjatuh dari kamar mandi harus berjuang ekstra keras berjalan dengan menggunakan tongkat. Juga merasakan kakinya yang menjadi bengkak akibat tulang yang patah. Tidak seperti tulang bayi yang baru lahir dapat kemabali tumbuh seiring pertumbuhannya, tulang pinggul kakek sudah tidak bisa tumbuh lagi dan harus puas dipotong akibat retak saat jatuh beberapa tahun silam.

Kakek sudah tidak bisa beraktivitas seperti biasa dengan kaki yang seperti itu. Karena itulah beliau lebih sering dirumah dan tidak melakukan apapun. Terlebih karena kakek sudah pensiun. Padahal dulu setelah pensiun kakek masih sering dan senang sekali pergi ke pasar. Entahlah, hanya membeli buah pepaya keinginanku saja kakek akan pergi ke pasar. Mungkin alasannya lebih dari sekedar menuruti keinginanku. Mungkin kakek senang bernostalgia dengan teman-teman pensiunan lain yang kini membuka toko di pasar, atau karena kakek merasa bosan tidak memiliki kegiatan. Tapi semenjak pensiun dan terjatuh dari kamar mandi ternyata membuat penyakit masa tuanya menjalar lebih cepat; kakek menjadi lebih pelupa. Ketika aku berkunjung libur semester kemarin, kakek berulang kali bertanya aku dari mana setiap lima menit sekali, dan aku jawab dengan jawaban yang sama "aku dari rumah" berkali-kali pula. Atau kakek akan meminta diambilkan minum setelah ia meminta aku mengambilkannya minum sepuluh menit yang lalu. Aku baru tahu bahwa tidak melakukan apa-apa selama beberapa bulan-bahkan tahun- membuat kita mudah lupa.

Dulu kakek seorang polisi. Bukan yang bertugas dijalanan mengatur lalu lintas, tetapi mengurus administrasi di kantor kepolisian. Foto masa mudanya dengan seragam polisi dipajang di ruang tamu rumah nenek. Waktu aku kecil  mama pernah bercerita bahwa dulu kakek sangat gagah dengan seragam dan sepeda onthelnya. Aku percaya itu karena melihat foto kakek yang dipajang di ruang tamu terlihat gagah memakai seragam polisi. Kakek sangat suka mencatat apapun yang dilakukannya (mungkin itu sebabnya beliau menjadi tenaga struktural di kantor kepolisisan dulu) karena kakek sangat teliti. Bahkan sampai saat ini kakek selalu menaruh kertas dan pulpen di dekat tempat tidurnya. Kakek akan menulis apapun. Dulu sih daftar belanja yang harus ia beli di pasar, sekarang? mungkin nomor telepon sanak saudaranya yang masih tersisa ketika datang berkunjung.

Dulu aku sangat senang mendengar cerita kakek tentang kisahnya saat Jepang menjajah, menjadi romusha, dan bercerita tentang teman-temannya dulu di asrama yang katanya sudah banyak yang meninggal. Aku dulu sering mengobrak-abrik laci kakek. Melihat kertas-kertas tagihan yang kakek simpan rapat di lacinya. Ternyata dulu televisi itu bayarnya seperti membayar kredit panci. Seorang petugas akan datang menagih tagihan lalu menuliskan berapa yang sudah dibayar di sebuah kartu kuning yang isinya ada beberapa gambar stasiun televisi yang ada di TV pengguna yang sampai sekarang masih eksis seperti TVRI, RCTI, SCTV. Aku juga pernah menemukan buku berisi foto hitam putih yang jika sekarang disebut buku tahunan sekolah, milik kakek. Ada banyak foto-foto disana dan aku dulu dengan riang-setengah memaksa- kakek untuk menyebutkan satu persatu orang yang ada di foto itu. Meskipun kakek sudah lupa-lupa ingat.

Jika aku datang ke rumah nenek, kakek akan berceloteh panjang lebar tentang masa lalunya, atau sibuk menanyakan bibi yang bekerja di rumahku masuk atau tidak. (aku tahu kakek menanyakan ini karena mama, anaknya, menjadi wanita karir dan sangat repot apabila bibi tidak masuk). Atau ketika aku kuliah di Bogor, kakek akan menanyakan apakah jalan ke Bogor masih rusak? masih banyak pohon? Apakah Bogor dingin? terus terang aku akan menjawab jalan ke Bogor sudah agak lebih baik dari tahun pertama aku masuk. Dulu lubangnya besar-besar yang jika hujan, air akan menggenanginya sehingga mungkin kambing kecil  dapat berenang. Tapi sekarang sudah lebih baik setelah jalananya di beton. Masih banyak pohon? hhmm, sejujurnya jalan kesana agak gersang. Apakah dingin? Aku merasa panas. Dingin hanya malam hari karena aku alergi dingin dan setiap malam aku tidak bisa tidur tanpa selimut. Mungkin satu hal yang belum berubah dari Bogor: Jika hujan, petirnya tetap menggelegar dan menyeramkan. Dan pertanyaan-pertanyaan ini akan kakek ulang setiap aku datang kesana. 

Kata Ua (kakak mama), kakek akan lebih cerewet jika aku datang. Padahal biasanya hanya bersikap acuh lalu tidur sepanjang hari, atau  menyuruh ini itu pada Ua berkali-kali, berulang kali. Aku hanya tersenyum mendengar cerita Ua. Aku hanya berpikir, mungkin kakek butuh teman bicara? Aku juga merasakan kesepian jika di kamar kost dan aku sendirian. Aku bahkan sering menangis jika sendirian. Mungkin kakek hanya kesepian tidak ada teman bicara yang bisa mendengarkan celotehan-celotehannya yang memang seperti anak kecil. Tapi bukankah jika sudah tua, kita akan kembali seperti anak kecil lagi? Meskipun dengan wujud yang lebih keriput dan sikap menjengkelkan yang menyuruh ini itu berulang-ulang. hehehe kadang aku juga gemas sih.

Enin (sebutan untuk nenek) juga begitu. Jika aku datang, ia akan berceloteh banyak hal. menceritakan apa saja (tapi lebih sering menceritakan tingkah kakek yang lucu) Dan kita akan tertawa menertawakan cerita enin tentang kakek yang tiba-tiba di siang bolong, ketika mereka hanya berdua di rumah, dan kakek ingin wingko babat, atau dadar gulung, atau kue satu (kue zaman mama kecil dulu, terbuat dari sagu yang dulu harganya satu perak), Atau menanyakan kabar Fitri di film cinta Fitri, bagaimana kelanjutan ceritanya padaku. padahal aku tidak pernah menontonnya dan yang aku tahu, film cinta Fitri sudah lama tamat. Jadi aku akan bilang, mereka hidup bahagia selamanya. hehehehe. 

Tapi itu dulu. Sekarang kakek dirawat di Rumah sakit. Kata mama kemarin kakek menanyakan aku. Ketika kakek siuman, cucu-cucu dan anak-anaknya yang datang sibuk mengenalkan diri mereka masing-masing. Ketika adik-adikku dan cucunya yang lain bilang "ini siapa?" sambil menunjuk diri mereka sendiri, kakek hanya tersenyum tanda tidak tahu. Tapi kakek menanyakan aku pada mama. Ada perasaan senang juga sedih mendengarnya. Aku senang karena kakek ingat aku. Hahaha. Tapi sedih, karena kakek sudah lupa banyak hal. mungkin ia juga lupa masa lalunya dulu yang sering dengan bangga ia ceritakan padaku. Cerita mama membuat aku ingin pulang dan melihat kakek. Tapi aku tidak bisa karena harus kuliah.

Tapi aku tahu ada hal yang bisa aku lakukan dari tepian jarak yang memisahkan kami. Mama selalu bilang bahwa kekuatan doa sangatlah kuat. Mama juga selalu bilang bahwa setiap doa baik itu akan dijabah Allah. Hanya saja ada beberapa yang harus masuk daftar tunggu, ada juga yang langsung di kabulkan. Aku percaya bahwa doa dapat mendekatkan kami yang jauh. Cepat sembuh kakek sayang. Meskipun sekarang gigi palsu kakek sudah di copot dan agak susah untuk mengerti apa yang kakek bicarakan. Dea akan tetap mendengarkan cerita kakek. Sekedar menanyakan apakah bibi masuk kerja atau Bogor masih dingin apa tidak, tentu saja bisa Dea jawab. Jadi kakek cepat sembuh ya. We love you :*


Rabu, 12 Februari 2014

Bukan sekedar pergi

Holla blogger! 
Setelah kemarin merasa saaangaaaat homesick, sekarang aku benar-benar belajar bahwa aku disini bukan untuk sekedar pergi  dari rumah lalu kembali menjadi diriku yang sama.

Aku jadi teringat praktikum pengembangan masyarakat (pengemas) kemarin. Pertemuan perdana kemarin diawali dengan perjanjian tidak tertulis kami yang aktif di organisasi dan berbagai kegiatan lain diluar perkuliahan untuk tetap fokus pada apa yang sudah menjadi tujuan kami datang ke Bogor: kuliah. Meskipun pada awalnya setiap orang dikelas itu saling pandang dan mengernyit heran karena pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan asisten praktikum bukan merupakan pertanyaan, seperti "kalian sayang orang tua kalian?", "kalian sayang keluarga besar kalian?", "kalian sayang tetangga kalian?", "kalian peduli pada negara kalian?" dan sesuatu hal-hal semacam itu yang menurutku bukan pertanyaan. Siapa sih yang nggak sayang orang tua sendiri? atau siapa sih yang nggak peduli dengan negaranya sendiri? termasuk jika mereka yang sering menghina, atau menjelek-jelekkan. Aku pikir mereka tetap peduli. Peduli dalam artian yang salah!

Balik lagi ke praktikum pengemas. Meskipun awalnya kami bingung, pada akhirnya kami semua mengangguk paham maksud dari asisten praktikum meminta kami untuk menjawab sejujurnya dari hati tentang "pertanyaan" yang beliau ajukan. 

Kami disini memikul harapan yang disampirkan di pundak-pundak kami. Harapan orang tua kami, keluarga besar kami. Bahwa kami membawa nama keluarga kami dan menjadikannya harum serta bangga memiliki kami di salah satu daun pada pohon silsilah keluarga besar mereka. 

Kami disini juga sebagai pembaharu, bisa juga dibilang sebagai perwakilan dari sebagian orang yang tidak bisa mengenyam manis pahit bangku perkuliahan. Mereka menitipkan mimpinya kepada kami-agar suatu saat nanti Indonesia menjadi lebih baik-. Memberdayakan masyarakatnya dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Peduli pada sesama dan jadikan itu sebagai suatu keharusan karena seharusnya mereka, kita, kami, hidup lebih baik, dan merasakan kenyamanan yang sama dalam hidup.

Untuk itulah kami -aku- disini. Dikelas matakuliah Pengembangan Masyarakat, di Institut Pertanian Bogor -dan jika aku bilang di tempat yang jauh dari rumah-. Tapi aku disini bukan sekedar pergi dari rumah lalu kembali menjadi diriku yang sama. Aku seharusnya kembali membawa harapan-harapan bagi mereka yang menitipkan mimpinya padaku, pada kami yang baru saja mengerti bahwa kami di kelas ini bukan karena tuntutan jurusan, dan tentu saja bukan suatu kebetulan. Tapi kami disini karena kami menyayangi orang tua kami, keluarga besar kami, tetangga yang berarti saudara terdekat kami, juga karena kami peduli. Peduli karena kami memerlukan tempat pulang untuk kembali setelah perjalanan menuntut ilmu setinggi bintang. Kembali ke pelukan ibu pertiwi; Indonesia.


Minggu, 09 Februari 2014

Mungkin Seseorang Harus Pergi

Mungkin seseorang harus pergi agar tahu betapa penting menjaga apa yang telah mereka miliki.

Bukan pura-pura tidak peduli dan meninggalkan. lalu ingin kembali.

Mungkin seseorang harus pergi untuk bilang bahwa kesempatan kedua memang ada.

Tapi tidak untuk orang-orang ingkar janji.

Mungkin seseorang harus pergi agar  tahu rasanya kesepian

Agar mereka tidak lagi mencari dan berpindah-pindah sesuka hati

Mungkin seseorang harus pergi untuk ajarkan bahwa menggenggam bukan berarti meremukkan.

Dan melepaskan bukan berarti utuh.

Mungkin seseorang harus pergi mencari setengah dari mereka, lalu membawanya pulang.

Karena waktu bersifat melupakan, jadi seseorang mungkin harus pergi

Mencari setengah dari mereka agar dirinya tidak lupa bahwa ia masih harus menjadi satu untuk tetap bertahan.

Bukan pura-pura menghilang dalam bayangan.


Sabtu, 08 Februari 2014

Feeling Blue

Today, i'm feeling blue..

bukan cuma karena cuaca yang mendung atau sesekali turun hujan rintik-rintik yang membuat hari ini terasa lebih muram. Tapi lebih karena hari ini aku harus kembali ke Bogor. Tempat aku harus meretas mimpi, mencoba menjadi manusia lebih baik, dan tentu saja kembali ke rutinitasku sebagai mahasiswa.

Aku hanya merasa kehidupanku di rumah itu seperti mimpi. seperti aku sekarang harus bangun dan bersiap untuk kehidupan nyata. Aku masih ingin bergelung dibawah selimut dan mendengarkan lagu-lagu, atau sekedar mengecek berbagai akun sosmed milikku sambil tiduran, atau makan sambil menonton tv, atau membaca novel-novel lamaku. Aku tidak ingin kembali ke realita, tapi aku harus.

Aku hanya takut untuk keluar dari zona nyamanku sekarang. Pura-pura tersenyum dan bilang "aku baik-baik saja" di telepon saat orang tuaku bertanya "apa aku baik-baik saja disana?".  Pura-pura bilang "ujiannya bisa kok mah" saat aku tidak tahu pasti aku mengisi apa dan sangat stress takut-takut hasilnya tidak baik. Tidur larut, mengerjakan deadline tugas yang jika aku ingin menggambarkannya seperti sedang memburuku dan mencambuk diriku sekeras mungkin ketika aku berhenti, bahkan untuk mengambil nafas. Aku masih bilang aku baik-baik saja dan aku harap memang begitu.

Setiap hari ketika aku pulang dan duduk di kasur kost-anku aku selalu berfikir apakah ini nyata? aku tidak pernah bermimpi bisa sampai pada tahap ini. Lalu setiap liburan akhir semester aku pulang dan mendapati diriku berpikir sama apakah ini nyata? aku di rumah, bergelung dibawah selimut, menonton TV, membaca novel setiap hari. apakah ini nyata? jadi sebenarnya yang nyata itu dimana?

Aku sangat merasa takut, bingung, sedih ketika harus meninggalkan mimpi ini dan berlanjut ke mimpi-mimpi lainnya. Hanya saja yang tampak nyata sekarang adalah seabrek kegiatan yang aku sendiri bingung harus aku mulai dari mana untuk menyelesaikannya.

Memang tidak selalu tampak menakutkan. Aku bertemu dengan orang-orang baru yang menyenangkan. menawarkan persahabatan dan kami tertawa seharian. Menertawakan banyak hal hingga menertawakan diri kami sendiri. Tapi dilain waktu disaat aku sendiri, aku tetap merasa sedih, kesepian, dan aku tidak tahu harus melakukan apa selain menatap langit-langit kamarku dan menangis. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku tangisi dan aku hanya menangis. Menangisi semua ketakutanku mungkin dan berharap dia hilang saat aku membuka mata.

Mereka memang hilang, tapi kembali lagi. Seperti ada bagian dari diriku yang menarik mereka dan aku menangis lagi. Aku tidak bilang kepada orang tuaku karena aku takut mereka khawatir. Tapi alasanku lebih karena aku tidak tahu harus menjawab apa ketika mereka menanyakan "ada apa?" karena sejujurnya aku pun tidak tahu aku merasakan apa. Aku hanya merasa ingin menangis dan aku menangis. Seperti ada lubang yang menganga dalam hatiku dan aku merasa sesak setiap kali menatap langit-langit kamarku, atau tembok putih, atau langit biru yang luas dari atap rumahku. Aku merasa kecil dan sendirian, dan aku benci perasaan ini. Aku selalu takut jika sendirian.

Dan perasaan itu datang lagi jika aku kembali ke kamar kost kecil dan menatap langit-langit kamarku. Aku merasa sangat homesick dan aku tidak bisa mengatasinya karena menelepon rumah sama halnya membuatku lebih ingin pulang. Jadi aku menulis disini. Aku hanya berharap perasaan itu hilang ketika aku mengetikkan kalimat terakhir pada tulisan ini dan aku berharap aku akan merasa lebih baik. Karena memang itu kenyataannya. Aku merasa lebih baik setelah ini.



Kamis, 06 Februari 2014

Insomnia~



Aku tidak bisa tidur. Sebenarnya sejak jam satu tadi aku sudah tidak bisa kembali memejamkan mata dan melanjutkan tidur. Aku merasa seperti seorang yang terkena jet-lag. Well, tadinya aku hanya bergelung-gelung di kasur, lalu menatap jam lagi, berpindah posisi, membetulkan selimut, melihat jam lagi. aku merasa sangat bosan dan akhirnya memutuskan untuk membaca novel-novel lamaku kembali.
Aku membaca novel Ilana Tan lagi. judulnya spring in London. Aku membacanya dengan cepat karena sudah tahu isi novelnya dan aku hanya ingin membaca bagian yang aku sukai saja.
Jadi, disinilah aku sekarang. Menatap laptop usang yang sedang di charger dan mengetik artikel ini. hehehehe. Tadinya aku berniat untuk mengerjakan tugasku sebagai tim redaksi majalah komunitas. Tapi aku merasa malas. Padahal aku hanya perlu mengirimkan jadwalku, lalu cerita pendek liburan selama tiga mingguku di rumah –yang aku tidak bisa bilang ini liburan- karena aku terserang demam, juga tugas pengisian konten-konten majalah yang deadlinenya minggu nanti.
Aku sebaiknya pergi tidur sekarang, karena sebentar lagi shubuh. Tapi, jika aku tidur sekarang, aku akan telat sholat shubuh. Yah.. begitulah kegalauan di pagi buta. Mungkin aku harus menunggu sampai adzan, kemudian sholat dan melanjutkan tidurku yang tertunda.
Ngomong-ngomong, aku akan blog walking sambil menunggu adzan shubuh yang kira-kira akan berkumandang 45 menit lagi. Hehehe. Siapa tahu ada blog yang benar-benar menginspirasiku mengerjakan konten majalah. See you soon readers.

Regard
Dea

Rabu, 05 Februari 2014

...

Aku percaya.. suatu hari nanti akan ada seseorang yang menerimaku apa adanya.

Berusaha memperjuangkanku apapun taruhannya.

Ya, aku percaya.

Aku tidak perlu takut dengan apapun selama Tuhan bersamaku bukan?

Aku hanya berpikir, apakah cara pandang dan norma yang aku miliki membuat sebuah batas yang membuat segalanya menjadi lebih sulit?

Aku tidak tahu ini ada untuk bagian yang mana.

Aku sudah pernah merasakan hal ini sebelumnya, dan aku gagal.

Gagal karena aku mengambil keputusan yang salah.

Tapi sekarang, aku hanya berpikir, jika aku memutuskan hal yang berbeda dengan apa yang aku putuskan dulu, apakah semuanya akan lebih baik?

Apakah akan ada kesempatan selanjutnya jika aku masih salah?

Aku .. hanya ingin tahu.

Selasa, 04 Februari 2014

Goodbye-part 1



Lia menutup mobil dan memastikan ia tidak menabrak mobil di kanan kirinya, juga memastikan bahwa ia bisa mengeluarkan mobil nantinya. Ia mendesah pelan. Sudah satu tahun sejak ia bisa mengendarai mobil, dan ia masih gugup jika akan parkir, terlebih di tempat-tempat ramai seperti ini. Ia berjalan santai sambil sesekali menghalau rambutnya yang berterbangan tertiup angin. Hari ini ia akan menghadiri reunian SMA. Ia sudah tiga kali tidak datang, dan ia sudah merasa tidak enak dengan teman-temannya yang tidak pernah jera mengirim SMS agar ia bisa datang ke acara reunian ini.

Acaranya di restoran sushi li. Ayok sini, udah pada kumpul. Lia membaca SMS masuk dari Hana lalu bergegas ke lantai tiga.

      “ya ampuuuun Liaaaa kangen.” Hana memeluk Lia erat saat ia baru membuka pintu restoran. Para pengunjung yang tidak lain teman-teman SMAnya semua menoleh ke suara cempreng Hana. Lia menghela nafas pendek. Ini tidak akan lama. Janjinya dalam hati.
        “kangen juga Haaaaan.” Lia membalas pelukan Hana dan tersenyum.

       “ya ampun, kita udah berapa tahun sih gak ketemu setelah perpisahan kemarin?” Hana menuntun Lia ke meja kotak yang sudah penuh oleh teman-teman SMAnya. Lia tersenyum lalu menyalami mereka satu-satu.

       “udah lama ya, gak kayak gini.” Lia tersenyum. Ayolah li, sudah tiga tahun. Lia merutuki dirinya yang masih merasa gugup.

     “kamu beda banget Li.” Dian tersenyum sambil menatap Lia dari atas sampai bawah. Kemeja ungu tanpa lengan dipadukan dengan rok abu-abu selutut. Rambut hitam Lia dibiarkan tergerai. Sapuan make up tipis dan lipstick berwarna Nude menghiasi bibirnya yang sedang tersenyum. Mata sipit yang dipakaikan eyeliner terlihat lebih besar sedang menunggunya meneruskan kalimat. Dian tersenyum lebar. 


       “tambah cantik. Iya kan temen-temen.” Dian tertawa diikuti teman-teman yang lain yang saling menimpali. Lia tersenyum samar lalu duduk disebelah Dian yang sibuk bercerita tentang kuliahnya yang semakin membosankan. Dosen-dosen killer dan teman-teman kuliahnya yang kelewat gaul. 

Sudah tiga tahun sejak terakhir kali Lia melihat teman-teman SMAnya saat perpisahan sekolah. Ia sudah berjanji untuk menutup lembaran ini dan melanjutkan hidup yang berbeda di dunia perkuliahan. Tapi ia merasa tidak enak dengan teman-teman yang tetap rajin menghubunginya untuk berkumpul meskipun ia sering tolak dengan berbagai alasan. Tapi kali ini Lia melanggar  janjinya. Ia datang. Itu pun karena Hana membujuk-setengah memaksa-  bahwa Lia harus datang.

“Ini reunian satu angkatan Li”. Hana menjelaskan di telepon satu minggu yang lalu, dan untuk kesekian kalinya Lia menolak dengan alasan harus mengurusi berbagai kegiatan kampus.

“kapan lagi kita kumpul-kumpul satu angkatan? Tahun depan udah pada sibuk skripsi. Terus kerja. Pasti susah banget buat ngajak ketemu.” Hana masih membujuk ketika Lia bilang ia benar- benar tidak bisa.

“aku.. aku Cuma gak pengen masa-masa SMA kita dulu jadi kenangan Li.” 

Tapi aku pengen masa-masa itu Cuma kenangan Han. 

“aku gak pengen masa-masa itu kayak angin lewat dan jadi masa lalu.”

 
Tapi itu masa lalu, Han. Dan aku ingin melewati bagian itu.

“masa itu, masa yang paling indah banget Li dalam hidup aku.” 

Itu masa yang pengen aku lewatin di daftar perjalanan hidup aku Han.

“aku kangen kita Li. Inget gak waktu kita sama-sama bolos pelajaran komputer dan malah nongkrong di kantin. Kita dimarahin abis-abisan sama bu Tuti. Inget gak waktu kita main bola bekles tiap istirahat, terus yang kalah mukanya di coret pakai bedak. Inget gak waktu Dian diselingkuhin Aris, dan Aris menghilang gak ada kabar buat Dian. Terus kita ngelabrak Aris di kantin. Aris minta maaf setelah itu dan membicarakan masalahnya dengan Dian. Walaupun akhirnya kita masuk BP dan dihukum menyiram tanaman setiap pagi dan sore selama satu tahun.” Terdengar isak tangis yang tertahan di telinga Lia. Lia ikut membayangkan kejadian-kejadian yang Hana sebutkan. 

“inget gak waktu kita karokean sehabis UN, lanjut marathon film sampe mbak-mbak penjaga tiketnya hafal muka kita, terus, kita foto-foto di toilet bioskop kayak anak alay.” Lia mendengar Hana tertawa getir. Lia menitikan air matanya. Kenangannya di masa itu, sekeras apapun ia mencoba, ia tidak akan bisa melupakannya. Itu terlalu banyak, terlalu indah, dan terlalu pedih untuk ia kenang. Lia merasakan dadanya sesak.

“aku Cuma pengen kamu tahu, kalau kamu sama berartinya dengan masa depanku Li. Aku gak mau kamu Cuma jadi masa lalu aku. Kita sahabat. Dan sahabat gak mengenal masa.” Lia mendapati dadanya sesak. Tanpa ia sadari, ia juga sudah terisak. Kata-kata Hana tepat merobek seluruh lapisan pertahanannya.

“aku bakal datang Han.” Suara serak Lia mengakhiri isak tangis keduanya. “aku datang, tapi mungkin agak telat. Aku harus… mempersiapkan diriku sendiri.. mengurusi hal-hal yang harus aku urus. Oke.” 

“oke, makasih ya Li.” Hana menutup telepon terlebih dahulu. Lia tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan. Tidak menyadari bahwa Hana tidak bisa melihat anggukannya. 

Jadi disinilah dia. Menatap wajah kemerahan teman-temannya akibat terlalu banyak tertawa. Tidak semuanya datang, tapi tetap tidak mengurangi keceriaan mereka. Lia meneguk jus alpukatnya. Sesekali ia menimpali obrolan teman-temannya tentang kejadian-kejadian konyol sewaktu SMA. Lia menghela nafas lega. Dia tidak datang..

         “dia gak datang?” Fajar dan Heri sedang mengobrol di sebelah Lia. Lia mematung sejenak. Ia terkejut takut-takut ia menyeruakkan pikirannya dan terdengar oleh mereka.

         “katanya datang, tapi telat.” Heri menjawab sambil menyalakan rokoknya. 

        “dasar. Dari dulu gak pernah berubah dia. Selalu sibuk.” Fajar mengikuti Heri dan mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya. Lia menyikut lengan Fajar.

         “Dia… siapa?” Lia setengah berteriak karena suasana sangat ramai.

     “Raka..” Fajar tidak sadar perubahan wajah Lia, ia sibuk menyalakan rokoknya. Dada Lia mencelos. 
Lia ingin pulang segera. Jemarinya meremas roknya. Ia tidak lagi menimpali ocehan-ocehan teman-temannya dan hanya melemparkan senyum sesekali yang entah dapat disebut senyum atau tidak. Fikirannya tertuju pada Raka yang akan datang. Apa yang harus ia lakukan? Ia melihat ke pintu masuk. Seorang laki-laki dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku mendekati pintu masuk. Jantung Lia semakin berdebar. Dia.. datang. Lirihnya.


*