Ketik, hapus, ketik, hapus, ketik, hapus.
Begitu seterusnya sampai jam segini (23.40 WIB) tugas belum ada yang selesai. Sudah setengah halaman menulis, kemudian aku baca ulang. Tapi setelahnya aku merasa itu terlalu ewh.. tulisan yang aneh, lalu aku akan menghapusnya dan memulai menulis kata-kata yang baru. Namun proses sebelumnya terulang kembali dan akhirnya, sampai detik ini aku belum selesai menuliskan satu pragraf pun untuk laporan. Padahal teman satu kelompok sudah menagih deadline bagianku untuk disusun menjadi laporan yang seutuhnya.
Tidak seperti menulis cerita, menulis laporan itu lebih rumit. Kata-kata yang digunakan harus sesuai, tinjauan pustaka, konten isi, dan bla bla bla. Belum lagi format penulisan harus benar, jika ada kutipan harus menulisnya sesuai dengan kaidah pengkutipan, menyusun daftar pustaka yang benar dan lain sebagainya. Tapi menulis cerita juga terkadang sulit sih. Aku harus mengeluarkan seluruh imajinasiku dan menuliskannya dalam tulisan yang hidup agar pembaca mengerti. Tidak jarang aku akan menatap kosong layar laptop sambil memikirkan kalimat apa yang akan aku tulis. Lalu jika tidak menemukan ide sampai beberapa jam kemudian, aku akan beralih ke media sosial dan curhat-curhat gak jelas, atau yang lebih parah meninggalkan tulisannya dan membiarkannya mengendap lama di folder laptop. Mengingat banyak sekali cerpen-cerpen dan draft novel yang hanya setengah cerita, 3/4 cerita, atau bahkan baru hanya pengenalan karakternya saja.
Ah, mungkin Dea hanya sedang tidak mood menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar