Selasa, 14 April 2015

Random mind after watching Divergent~

Holla blog, long time no see, ya. Ah, sebenarnya saya sering mampir ke blog ini, tapi gak ada niatan nulis sedikitpun. Selain tulisan tuntutan tugas, saya rada males buat cerita-cerita lagi di blog. hehehe

Kenapa?

Karena banyak faktor sebenarnya. Dan yang mendapati peringkat pertama adalah karena saya disibukan banyak hal di kehidupan nyata. Tapi sekarang saya datang untuk memulai kembali kebiasaan lama saya *laugh devil*

By the way, baru saja saya selesai menonton film Divergent. Saya tahu ini terlalu ketinggalan jaman banget buat nonton film ini disaat Fast Furious 7 udah tayang di bioskop. Tapi izinkan saya berbagi cerita.

Saya selalu suka kisah fiksi fantasi, entah itu berbentuk cerita kerajaan atau keadaan di masa depan, atau bisa jadi suatu keadaan yang dibayangkan oleh pengarangnya. Bagi saya, menulis kisah berbau fantasi akan 10 kali lebih sulit ketimbang menulis cerita biasa. Dan saya selalu kagum dengan pemikiran para penulis cerita ini yang dapat berpikir out of the box dari orang-orang kebanyakan.

Singkatnya, cerita ini mengisahkan tentang suatu dunia yang masyarakatnya terbagi menjadi lima faksi. Kemudian diantara mereka ada yang menjadi pencilan, entah menjadi non faksi (tidak termasuk faksi manapun) atau menjadi Divergent (sebutan untuk seseorang yang memiliki kelima faksi tersebut). Perkenalkanlah kelima faksi tersebut : Eritude dengan pemikirannya yang cemerlang-ilmu pengetahuan adalah sahabatnya-, Abnegation dengan sifatnya yang tidak mementingkan diri sendiri, Amity dengan kebaikannya dan keinginan mereka untuk tetap harmonis, Candor dengan kejujurannya, dan Dauntless dengan keberaniannya. Dunia dalam film ini terbagi menjadi kelima faksi tersebut. Dan setiap manusia, diharuskan untuk memilih-dan dipilih, faksi mana yang akan menjadi tempat hidup mereka setelahnya. Dan perlu digaris bawahi, bahwa pembagian faksi ini berada diatas keluarga. Darimanapun asalmu, keluargamu bukan lagi menjadi bagian dari keluargamu ketika kamu berpindah faksi (bukankah itu menakutkan?).
Tentu saja dari mereka ada yang menyimpang. Orang-orang dengan "kelainan" ini disebut Divergent. Mereka memiliki kelima faksi dalam diri mereka. Dan kelimanya sangatlah kuat.

Pada dua puluh menit pertama, saya harus bilang bahwa adegan ini mengingatkan saya  pada film Harry Potter. Dimana, mahasiswa baru hogwarts harus memasuki tahap memilih-dan dipilih, pada golongan mana mereka nantinya. Tapi, yang membuat saya nyeeesss.. adalah, ada satu keluarga-keluarga anggota dewan- dari faksi abnegation, yang anak-anak mereka tidak memiliki masuk ke dalam faksi mereka lagi. Untuk saya yang sedang homesick dan baper (bawa perasaan), hal ini memicu tangis saya. Karena... yeah, adegan ini sedikit mirip dengan adegan ketika saya harus pergi meninggalkan orang tua saya menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Dan pada akhirnya, seorang anak di belahan dunia dalam film divergent ini,  yang harus memilih. Faksi mana yang mereka inginkan, dan mereka harus survive di dalamnya.
Sejujurnya, tiap adegan dalam film ini mengingatkan saya pada mata kuliah Pendidikan Orang Dewasa (POD) oh god, please dont remaind me about that. Tapi serius. Ketika kita memilih suatu pilihan, kita harus berusaha survive di dalamnya bukan? Dan.. inilah kisah Beatrice, atau Tris-seorang anak dari keturunan Abnegation, yang ternyata seorang Divergent, dan harus berusaha survive untuk menjadi seorang Dauntless karena itu adalah pilihannya-.

Ribet?

No.. masih ribetan dunia nyata. hahahaha

Jadi, karena "kelainannya" ini, Tris harus merahasiakan identitasnya, karena jika ketahuan, dia akan mati dibunuh.

Saya langsung mikir, kenapa sih harus dibunuh? bukannya bagus ya jadi divergent?  Sama kayak avatar yang punya semua elemen, jadi dia bisa memimpin negeri dalam keseimbangan, karena dia punya semua elemennya?
HAHA.. nyatanya setiap pemikiran manusia itu berbeda-beda. Dan sayangnya, petinggi-petinggi tiap faksi, khususnya faksi Erutide dan Dauntless menganggap bahwa mereka yang "berbeda" menjadi ancaman dan harus di singkirkan. Karena mereka tidak bisa untuk  di tertibkan. (hhhmmmm makin serem aje ini film).
Setelah dari adegan ini, adegan-adegan selanjutnya adalah perang, baku tembak, saling menyelamatan-dll. tapi bukan itu yang mau saya tonjolkan disini. meskipun bagian itu juga yang saya sukai.

Saya suka bagian Four bilang pada tris bahwa ia tidak ingin menjadi satu faksi saja. Ia tidak ingin menjadi Dauntless saja, tapi ia ingin memiliki sifat kelimanya. Ketika membicaraka tatto milik Four yang menggambarkan 5 faksi.
Entahlah, mungkin kedengarannya aneh, tetapi ketika saya menonton film ini, yang ada di pikiran saya adalah, bahwa bagaimana anak berkebutuhan khusus hidup? Anak-anak dengan masyarakat sebut "Autis". Bukankah mereka juga memiliki "kelebihan" dan di cap sebagai pencilan oleh masyarakat awam? hhhmmm.. itu hanya segelintir pemikiran absurd yang muncul ketika menonton film ini. Hampir sama kasusnya dengan pemikiran matakuliah POD ditengah-tengah menonton.

Anyway.. mungkin ini juga tidak ada hubungannya, tetapi saya berpikir bahwa Divergent sama dengan Ambivert. it's no offense. But yeah, i told you kalo saya Ambivert kan? Saya pernah bilang hal itu sangat menakutkan, ketika saya tidak tahu bahwa saya Ambivert. Saya takut saya tidak diterima pada dua kepribadian yang manusia awam percayai (Introvert, atau Ekstrovert). Kemudian saya memilih untuk menjadi Ekstrovert dan berusaha survive didalamnya. (hell yeah.. salah satu buktinya adalah saya masuk jurusan komunikasi). Tapi.. bukankah yang seharusnya kita lakukan adalah menerima bahwa kita ambivert dan menjalani sesuai dengan apa yang kita yakini kan? Berpura-pura  menjadi orang ekstrovert dan tidak merasa nyaman, atau berpura-pura menjadi seorang introvert, tapi aku juga membenci sendirian? what world is going now, eh? hehehe

Oh iya, ini ada foto hasil kuis iseng saya beberapa waktu lalu. Saya penasaran, masuk faksi manakah saya, jika saya berada pada dunia yang diceritakan dalam film Divergent. Dan, tadaaa.... here the result

I'm Divergent :p

Hihihi.. thank you udah baca tulisan gak penting dan gak jelas ini sampai selesai. Gluck for us :) bye, see you next post.



Regard

Dea



Rabu, 04 Maret 2015

Magang Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan 1: And i choose, AIESEC.



            Menjadi mahasiswa Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat itu menurut saya mengajarkan banyak hal dalam esensi hidup, pun dalam tiap mata kuliah yang disisipkan tiap semesternya. Banyak sekali pelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tapi juga bersifat terapan untuk kehidupan sehari-hari. Seperti pada semester enam ini saya mendapat mata kuliah Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan atau biasa disebut KOK. Yang saya suka dari mata kuliah ini adalah bagaimana mahasiswanya diminta untuk mengembangkan soft skill pun hanya satu semester dengan magang di sebuah organisasi atau lembaga yang belum pernah diikuti sebelumnya. Dan untuk program magang itu, saya memilih AIESEC. Kenapa harus AIESEC?
            Saat diminta untuk memilih organisasi atau lembaga mana yang akan dipilih untuk program magang selama satu semester kedepan, beberapa organisasi sempat terlintas di benak saya. Namun akhirnya saya memilih AIESEC. Kenapa harus AIESEC? Pertama, karena saya ingin melanjutkan studi, atau memiliki pengalaman studi ke luar negeri. Dan AIESEC salah satu organisasi yang mewadahi para mahasiswa untuk mewujudkan hal tersebut. Mama saya pernah bilang, ketika kita punya mimpi, kejar dan pelajari apa yang harus dilakukan untuk menggapai mimpi-mimpi tersebut. Dan menurut saya, bergabung dengan AIESEC menjadi salah satu cara untuk saya mengetahui bagaimana prosedur seorang mahasiswa sampai ke luar negeri. Memang benar, khususnya di IPB sendiri banyak sekali organisasi atau lembaga lain yang mewadahi mimpi-mimpi studi keluar negeri selain AIESEC. Namun, sepanjang yang saya ketahui hingga saat ini adalah bahwa AIESEC berfokus pada environment, dan karena masalah lingkungan menjadi isu yang belum tuntas hingga saat ini, saya menjadi tertarik untuk mengetahui, bagaimana sih cara-cara mahasiswa seluruh dunia untuk menjawab tantangan global ini. Itu menjadi alasan kedua saya memilih untuk magang di AIESEC. Alasan yang ketiga adalah, karena AIESEC sudah tersebar di 125 negara di dunia. Dan karena ini adalah mata kuliah Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan saya ingin mengetahui bagaimana cara orang-orang di dalam AIESEC untuk mengatur anggotanya yang tersebar di berbagai negara dan bisa berkembang, serta bertahan hingga saat ini. Dan saya yakin mereka adalah orang-orang hebat, sehingga saya tertarik untuk belajar dari mereka.
            Bagaimana perjalanan saya selama magang disana? Apa sisi lain dari AIESEC yang kita kenal? Bagaimana sih prosedur untuk exchange keluar negeri? Bagaimana strugle-nya orang-orang dibalik keberangkatan seorang mahasiswa untuk exchange ke luar negeri, akan saya post secara berkala di blog ini. And for your information, saya masuk departemen OGCDP (Outgoing Exchange Development Program). Nah, apalagi itu departemen OGCDP akan saya jelaskan di postingan selanjutnya. See you in next post :)



Regard
Dea

Selasa, 17 Februari 2015

Individu, "wajah" Kelembagaan Keluarga


Individu, “wajah” kelembagaan keluarga
Oleh :
Deanisa Rahmani/I34120056

Kelembagaan biasanya mengacu pada sebuah badan pada organisasi yang melekat dalam diri seorang individu. Dikategorikan sebagai latar belakang yang dimiliki oleh seorang individu dan individu itu sendiri yang menjadi wajahnya. sehingga, kerap kali terlontar “jaga image” yang sebenarnya bertujuan agar individu tersebut menjaga lembaganya dimata publik. Namun, sebenarnya kelembagaan tidak selalu terkait dengan sebuah badan atau organisasi, melainkan mengacu pada kelakuan berpola masyarakat yang didalamnya ada sistem norma dan nilai yang dianut.
Pada dasarnya, kelembagaan adalah suatu aktivitas dari kelakuan berpola manusia dalam kebudayaannya, yang didalamnya termasuk sistem norma dan nilai, serta tata kelakukan yang dipatuhi, untuk mewujudkan tata kelakuan yang ideal. Sistem norma yang paling awal dan mendasar kita dapatkan dalam sebuah keluarga. Keluarga merupakan kelembagaan awal yang mencekoki kita dengan sistem norma, nilai, dan tata kelakuan yang di anut oleh orang tua kita. Sering sekali kita mendengar, atau saya merasakan sendiri ketika akan pergi menuntut ilmu di IPB, orang tua saya selalu berpesan bahwa saya harus menjaga nama baik keluarga. Artinya, saya menjadi wajah dari keluarga saya dan saya harus bertata kelakuan baik.
Dalam sosiologi, Polak (1966) dalam Nasdian (2014)[1] menyatakan bahwa yang disebut kelembagaan adalah sebagai suatu kompleks atau sistem peraturan dan adat istiadat yang mempertahankan nilai-nilai yang penting. Dalam konteks ini, adat istiadat yang dipertahankan adalah adat istiadat yang disosialisasikan dalam keluarga. kelembagaan dalam keluarga disebut kelembagaan domestik.
Pada keluarga, adat istiadat, norma, budaya, dan tata kelakuan disosialisasikan sejak kita kecil. Sehingga, terbentuknya pemahaman mana yang baik dan mana yang buruk dari norma terbentuk dalam keluarga. Ketika kita bersosialisasi dengan masyarakat, norma dan adat istiadat yang kita miliki sebelumnya dapat tereduksi, atau diperkuat tergantung dari aturan-atauran tata kelakuan yang ada pada lingkungan dimana kita tinggal. Keluarga menjadi kelembagaan pertama yang mesosialisasikan aturan-aturan tata kelakuan mana yang baik dan mana yang tidak pada tiap individu.
Mengapa kita perlu mempelajari kelembagaan dalam masyarakat? Kelembagaan adalah aturan tata kelakuan yang disepakati bersama. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita perlu membaur bersama peraturan-peraturan tersebut agar tidak menimbulkan konflik dalam masyarakat. Seringkali, konflik terjadi ketika seseorang merasa tidak dihargai karena adanya perbedaan nilai-nilai mana yang baik dan mana yang tidak pada tiap individu. Untuk itu, agar menghindari konflik, kita harus dapat membaur dengan masyarakat dengan mengetahui aturan-aturan yang ada pada mereka.
Dalam kasus pengembangan masyarakat desa, kelembagaan diperlukan sebagai wadah untuk mengorganisasikan masyarakat desa untuk memudahkan dalam mensosialisasikan aturan-aturan mengenai suatu tujuan yang akan dicapai dalam suatu kelompok. Pada tahap ini, kelembagaan dapat menjadi organisasi ketika kelembagaan ini memiliki tujuan yang dilegalkan secara formal oleh anggota kelompok tersebut. Tujuan ini menjadi tujuan yang akan dicapai bersama dalam suatu organisasi.
Dalam sebuah keluarga, tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh tiap anggota keluarga tidak di formalkan sehingga tujuan-tujuan tersebut dapat berubah sesuai dengan keadaan keluarga itu sendiri. Aturan-aturan dalam keluarga juga dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan sekitarnya. Seorang keluarga berbudaya batak ketika merantai pada kondisi budaya sunda, akan mengasimilasikan budaya mereka dengan budaya sunda, dan cenderung untuk melakukan tileransi pada budaya sunda karena mereka tinggal pada lingkungan sunda dan aturan-aturan sunda.
Ketika saya melakukan turun lapang pengembangan masyarakat dan gender pembangunan pada semester kemarin, saya menemukan beberapa masyarakat yang bukan warga asli, dalam hal ini warga bersuku jawa, cenderung melakukan toleransi dan mengikuti aturan-aturan yang ada pada masyarakat sunda di sekitarnya agar tidak menimbulkan konflik. Warga bersuku jawa juga cenderung mempelajari bahasa sunda karena masyarakat desa disana tidak terlalu lancar berbahasa indonesia, dan untuk kepentingan komunikasi, keluarga jawa ini sedikit demi sedikit mempelajari bahasa sunda. Pun juga ketika ada praktikum lapang pada matakuliah sosiologi pedesaan, saya juga menemukan beberapa keluarga yang bukan warga asli daerah tersebut (batak dan jawa) cenderung mempelajari budaya dari lingkungan tempat mereka tinggal untuk menghindari konflik. Keadaan ini dilakukan karena ada perbedaannya aturan-aturan mengenai apa yang baik dan yang buruk antar tiap budaya. Sehingga aturan-aturan pada sebuah kelembagaan penting untuk dipelajari.
Pada lingkungan kampus juga, kelembagaan-kelembagaan yang dibawa dari keluarga masing-masing cenderung bergabung, atau tereduksi, atau malah diperkuat karena perbedaan situasi antara lingkungan keluarga dan dengan lingkungan kampus. Pada lingkungan ini, individu mulai mempelajari bagaimana proses birokrasi pada sebuah organisasi, dan belajar untuk mulai bertoleransi terhadap pendapat-pendapat individu lain.
Sebagai contoh ketika pertama kali masuk kampus, mahasiswa TPB diwajibkan untuk tinggal di asrama yang telah dipersiapkan oleh IPB. Pada lingkungan inilah, tiap individu bertemu dengan berbagai kebudayaan, perbedaan bahasa, dan perbedaan norma, serta nilai tata kelakuan. Sehingga pada hari pertama para mahasiswa baru menginap di asrama, seorang senior residence (SR) memfasilitasi kami untuk merumuskan aturan-aturan apa saja yang harus dipatuhi oleh warga asrama, dan disepakati oleh kami bersama. aturan-aturan baru inilah yang menjadi kelembagaan baru bagi kami yang menjadi warga asrama. Lain halnya dengan peraturan-peraturan baru dalam tata kelakuan dengan teman satu kamar. Tiap individu-individu dalam tiap kamar memiliki aturan-aturan tersendiri dan mungkin saja berbeda dengan aturan kamar lain.
Meskipun tiap individu harus belajar mengenai aturan-aturan diluar aturan yang ia anut, tiap individu tetap memiliki dan memegang teguh budaya mereka, karena telah di sosialisasikan terus menerus dan sejak kecil oleh keluarga kita. Karena sudah melekat dalam diri individu. Melekatnya kelembagaan pada individu ini tanpa disadari menjadi identitas.
Hal-hal inilah yang menurut hemat saya menjadikan “wajah” bagi kelembagaan domestik mereka (keluarga). Ketika mereka bertemu dengan orang baru sekalipun, budaya asal yang dibawa pada keluarga masing-masing akan tetap terus ada dan bisa jadi berkembang sesuai dengan lingkungan tiap individu. Baik disadari maupun tidak, aturan-aturan yang mereka peroleh dari sekian perjalanan mereka akan mereka sosialisasikan pada keluarga masing-masing nantinya.
Karena tiap individu adalah wajah bagi kelembagaan keluarganya, penting bagi tiap individu untuk mempelajari berbagai macam kelembagaan yang ada pada dirinya dan lingkungannya. Agar mereka dapat menganalisis peran mana yang harus mereka lakukan ketika berhadapan dengan berbagai situasi di masyarakat. Karena, pada dasarnya aturan-aturan itu akan tetap ada sekalipun pada lingkungan yang liberal sekalipun. Tiap individu memerlukan aturan-aturan agar menjadi koridor mereka dalam bertindak. Dan aturan tersebut terkemas dalam suatu kelembagaan yang menjadi wadah sekaligus koridor tiap individu dalam berperilaku.
Kita sebagai salah satu dari contoh individu yang menjadi wajah bagi keluarga kita masing-masing. Mempelajari aturan-aturan baik internal dalam keluarga maupun eksternal (diluar keluarga) agar kita dapat menjadi aktor yang tepat dalam memosisikan diri dalam berbagai macam lingkungan dan situasi yang berbeda, dan menjadikan kita wajah yang baik bagi keluarga kita.









[1] Nasdian FT. 2014. Pengembangan Masyarakat. Jakarta (ID): Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Jumat, 06 Februari 2015

Mengenal Kepribadian Ambivert?

Pernah gak ngerasa aneh sama diri sendiri yang kadang mood nya gabisa ke kontrol? kadang sedih, seneng dalam satu hari bersamaan dan kamu ngerasa sifat kamu itu sering berubah-ubah? Kadang cerewet banget, kadang males ngomong, kadang suka berinteraksi dengan orang lain, kadang kamu ngerasa cukup melewati weekend dengan buku di kamar? Yes! selamat datang di dunia Ambivert!
 
Mungkin diantara kita banyak yang belum familiar dengan tipe kepribadian ini (saya pun baru tahu) kalau ada kepribadian yang bernama Ambivert di dunia ini.

Dari hasil searching di beberapa situs di internet, kepribadian ambivert adalah kepribadian gabungan dari kepribadian introvert dan ekstrovert. Dimana, seseorang yang memiliki kepribadian Ambivert dapat menunjukan pribadi introvert di suatu waktu, dan di waktu lainnya pribadi ini menunjukan seorang yang introvert.

Ambiversion is falling more or less directly in the middle. An ambivert is moderately comfortable with groups and social interaction, but also can enjoy time alone, away from a crowd

Singkatnya gini....

Satu waktu kamu merasa nyaman berinteraksi dengan banyak orang, aktif organisasi, dll. Tapi di waktu lain kamu menyukai kegiatan kesendirian kamu, kayak baca buku di kamar dan kadang menarik diri dari ajakan orang lain untuk hangout saat weekend.
Kamu gak menarik diri dari kehidupan sosial kamu seperti hangout bareng temen, dan lain sebagainya. Tapi, kamu juga menikmati waktu sendiri kamu dan gak ada orang yang bisa ganggu waktu "sendiri" kamu itu. Kamu tidak suka kesepian, tapi tidak juga mencintai keramaian.

And i'm officially Ambivert!

Awalnya, waktu sadar punya tingkat moody yang diatas rata-rata, i'm afraid.  Takut kalau ternyata saya punya kepribadian sampingan seperti yang buku tentang sybil, atau kepribadian ganda jelasin. Somehow, suka ngerasa aneh sama diri sendiri sama perubahan yang cepat gini, feel freak, feel strange.... But thank's God, I'm ambivert. Begitu leganya saya waktu tau kalau saya gak punya kepribadian ganda. Karena pada awalnya, saya hanya tau dua kepribadian yang ada, yaitu Introvert dan Ekstrovert.

Keuntungannya, seorang Ambivert dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Menjadi pribadi yang menyenangkan dan fleksibel karena dapat masuk dalam situasi apapun.

Tapi...

Seorang Ambivert bisa sangat annoying ketika dia moody.  Seorang yang Ambivert juga menjadi sulit ditebak karena sifatnya yang sering berubah-rubah seuai mood. Dia juga terlihat cuek, namun sangat sensitif.

So, Love yourself  'cause every human is adorable and unique :)



Regards

Dea

Selasa, 13 Januari 2015

Welcome 2015, yeay!!

Gak nyangka udah 2015 dan 2014 menjadi tahun yang sulit menurut gue. By the way, gue masih Dea  yang rempong gak ketulungan, moody, dan terlalu over thinking. Jadi, 2014 ditutup dengan banyak hal yang menguras fikiran dan perasaan (As always i'm over thinking again), yang bikin gue nelpon mama malem-malem cuma buat nangis.

Pernah gak sih lo sedang berada di suatu lingkaran, tapi lo ngerasa gak jadi bagian dari lingkaran itu? yes, i am. Mama bilang itu cuma pikiran jelek gue aja, cuma kekhawatiran berlebihan yang selalu gue lakuin ketika menghadapi hal baru, hal yang gak pernah gue rasain dan gak ada dalam skema pikiran gue tentang situasi tersebut. Tapi pernah gak sih lo ngerasa, walaupun lo tahu yang lo takutin cuma ada di pikiran lo doang tapi lo gak bisa enyahin semua pikiran itu? And that's happen to me. 

Gue terlalu takut tentang apa kata orang, takut gue salah ngomong, salah bertindak, salah ngambil keputusan, dan semua salah salah lainnya yang bikin orang gak nyaman berada disekitar gue, gak nyaman kerja bareng gue, gak nyaman berinteraksi sama gue, and everythings yang bikin gue selalu mengeluarkan kalimat "salah gue dimana?" buat setiap situasi yang gak sesuai dengan apa yang gue pikirin.

Mama selalu bilang kalau itu bukan salah gue, bukan karena gue gak berusaha yang terbaik tapi itu emang jalan supaya gue makin dewasa. Semakin bersyukur atas apa yang gue punya. Semakin menghargai karena apa yang gue dapet dengan kerja keras hasilnya bakalan lebih manis daripada yang gue dapet dengan mudah.  Dan itu semua bakalan bikin gue semakin paham kalau manusia itu gak ada yang sama, mereka punya pikiran masing-masing dan itu pasti berbeda dengan kita.  I know mom, but sometimes i can't handle my feeling and it feel so dumb

Sekarang udah 2015, walaupun postingan gue ini telat banget, tapi gue cuma mau bilang semoga apa yang terjadi di 2014 menjadi pelajaran buat kita semua,  buat gue khususnya, agar jadi pribadi yang lebih dewasa, lebih bijak ngejalanin hidup, lebih ikhlas kalau toh rencana kita gak sesuai harapan, lebih santai dan gak over thinking lagi, lebih bertanggung jawab sama diri gue sendiri because my father always said: "ngurus diri sendiri aja gak becus gini de, apalagi ngurus negara" kalau gue ngeluh sakit karena kesalahan gue sendiri (re:susah makan). huhuhu i know he loves me so much.

By the way, i'm really feel blessed. 2014 gak cuma ngajarin gue gimana jadi pribadi yang lebih dewasa tapi menghadirkan banyak orang-orang baik di sekeliling gue. Gue tahu Tuhan maha baik Jadi gue gak pernah nyesel udah pernah ngerasain "feeling so dumb" nya di tahun 2014 kemarin dan i'm feel really fine after that. Thank you God. And welcome 2015 yeaaayyy!!!