Selasa, 17 Februari 2015

Individu, "wajah" Kelembagaan Keluarga


Individu, “wajah” kelembagaan keluarga
Oleh :
Deanisa Rahmani/I34120056

Kelembagaan biasanya mengacu pada sebuah badan pada organisasi yang melekat dalam diri seorang individu. Dikategorikan sebagai latar belakang yang dimiliki oleh seorang individu dan individu itu sendiri yang menjadi wajahnya. sehingga, kerap kali terlontar “jaga image” yang sebenarnya bertujuan agar individu tersebut menjaga lembaganya dimata publik. Namun, sebenarnya kelembagaan tidak selalu terkait dengan sebuah badan atau organisasi, melainkan mengacu pada kelakuan berpola masyarakat yang didalamnya ada sistem norma dan nilai yang dianut.
Pada dasarnya, kelembagaan adalah suatu aktivitas dari kelakuan berpola manusia dalam kebudayaannya, yang didalamnya termasuk sistem norma dan nilai, serta tata kelakukan yang dipatuhi, untuk mewujudkan tata kelakuan yang ideal. Sistem norma yang paling awal dan mendasar kita dapatkan dalam sebuah keluarga. Keluarga merupakan kelembagaan awal yang mencekoki kita dengan sistem norma, nilai, dan tata kelakuan yang di anut oleh orang tua kita. Sering sekali kita mendengar, atau saya merasakan sendiri ketika akan pergi menuntut ilmu di IPB, orang tua saya selalu berpesan bahwa saya harus menjaga nama baik keluarga. Artinya, saya menjadi wajah dari keluarga saya dan saya harus bertata kelakuan baik.
Dalam sosiologi, Polak (1966) dalam Nasdian (2014)[1] menyatakan bahwa yang disebut kelembagaan adalah sebagai suatu kompleks atau sistem peraturan dan adat istiadat yang mempertahankan nilai-nilai yang penting. Dalam konteks ini, adat istiadat yang dipertahankan adalah adat istiadat yang disosialisasikan dalam keluarga. kelembagaan dalam keluarga disebut kelembagaan domestik.
Pada keluarga, adat istiadat, norma, budaya, dan tata kelakuan disosialisasikan sejak kita kecil. Sehingga, terbentuknya pemahaman mana yang baik dan mana yang buruk dari norma terbentuk dalam keluarga. Ketika kita bersosialisasi dengan masyarakat, norma dan adat istiadat yang kita miliki sebelumnya dapat tereduksi, atau diperkuat tergantung dari aturan-atauran tata kelakuan yang ada pada lingkungan dimana kita tinggal. Keluarga menjadi kelembagaan pertama yang mesosialisasikan aturan-aturan tata kelakuan mana yang baik dan mana yang tidak pada tiap individu.
Mengapa kita perlu mempelajari kelembagaan dalam masyarakat? Kelembagaan adalah aturan tata kelakuan yang disepakati bersama. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita perlu membaur bersama peraturan-peraturan tersebut agar tidak menimbulkan konflik dalam masyarakat. Seringkali, konflik terjadi ketika seseorang merasa tidak dihargai karena adanya perbedaan nilai-nilai mana yang baik dan mana yang tidak pada tiap individu. Untuk itu, agar menghindari konflik, kita harus dapat membaur dengan masyarakat dengan mengetahui aturan-aturan yang ada pada mereka.
Dalam kasus pengembangan masyarakat desa, kelembagaan diperlukan sebagai wadah untuk mengorganisasikan masyarakat desa untuk memudahkan dalam mensosialisasikan aturan-aturan mengenai suatu tujuan yang akan dicapai dalam suatu kelompok. Pada tahap ini, kelembagaan dapat menjadi organisasi ketika kelembagaan ini memiliki tujuan yang dilegalkan secara formal oleh anggota kelompok tersebut. Tujuan ini menjadi tujuan yang akan dicapai bersama dalam suatu organisasi.
Dalam sebuah keluarga, tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh tiap anggota keluarga tidak di formalkan sehingga tujuan-tujuan tersebut dapat berubah sesuai dengan keadaan keluarga itu sendiri. Aturan-aturan dalam keluarga juga dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan sekitarnya. Seorang keluarga berbudaya batak ketika merantai pada kondisi budaya sunda, akan mengasimilasikan budaya mereka dengan budaya sunda, dan cenderung untuk melakukan tileransi pada budaya sunda karena mereka tinggal pada lingkungan sunda dan aturan-aturan sunda.
Ketika saya melakukan turun lapang pengembangan masyarakat dan gender pembangunan pada semester kemarin, saya menemukan beberapa masyarakat yang bukan warga asli, dalam hal ini warga bersuku jawa, cenderung melakukan toleransi dan mengikuti aturan-aturan yang ada pada masyarakat sunda di sekitarnya agar tidak menimbulkan konflik. Warga bersuku jawa juga cenderung mempelajari bahasa sunda karena masyarakat desa disana tidak terlalu lancar berbahasa indonesia, dan untuk kepentingan komunikasi, keluarga jawa ini sedikit demi sedikit mempelajari bahasa sunda. Pun juga ketika ada praktikum lapang pada matakuliah sosiologi pedesaan, saya juga menemukan beberapa keluarga yang bukan warga asli daerah tersebut (batak dan jawa) cenderung mempelajari budaya dari lingkungan tempat mereka tinggal untuk menghindari konflik. Keadaan ini dilakukan karena ada perbedaannya aturan-aturan mengenai apa yang baik dan yang buruk antar tiap budaya. Sehingga aturan-aturan pada sebuah kelembagaan penting untuk dipelajari.
Pada lingkungan kampus juga, kelembagaan-kelembagaan yang dibawa dari keluarga masing-masing cenderung bergabung, atau tereduksi, atau malah diperkuat karena perbedaan situasi antara lingkungan keluarga dan dengan lingkungan kampus. Pada lingkungan ini, individu mulai mempelajari bagaimana proses birokrasi pada sebuah organisasi, dan belajar untuk mulai bertoleransi terhadap pendapat-pendapat individu lain.
Sebagai contoh ketika pertama kali masuk kampus, mahasiswa TPB diwajibkan untuk tinggal di asrama yang telah dipersiapkan oleh IPB. Pada lingkungan inilah, tiap individu bertemu dengan berbagai kebudayaan, perbedaan bahasa, dan perbedaan norma, serta nilai tata kelakuan. Sehingga pada hari pertama para mahasiswa baru menginap di asrama, seorang senior residence (SR) memfasilitasi kami untuk merumuskan aturan-aturan apa saja yang harus dipatuhi oleh warga asrama, dan disepakati oleh kami bersama. aturan-aturan baru inilah yang menjadi kelembagaan baru bagi kami yang menjadi warga asrama. Lain halnya dengan peraturan-peraturan baru dalam tata kelakuan dengan teman satu kamar. Tiap individu-individu dalam tiap kamar memiliki aturan-aturan tersendiri dan mungkin saja berbeda dengan aturan kamar lain.
Meskipun tiap individu harus belajar mengenai aturan-aturan diluar aturan yang ia anut, tiap individu tetap memiliki dan memegang teguh budaya mereka, karena telah di sosialisasikan terus menerus dan sejak kecil oleh keluarga kita. Karena sudah melekat dalam diri individu. Melekatnya kelembagaan pada individu ini tanpa disadari menjadi identitas.
Hal-hal inilah yang menurut hemat saya menjadikan “wajah” bagi kelembagaan domestik mereka (keluarga). Ketika mereka bertemu dengan orang baru sekalipun, budaya asal yang dibawa pada keluarga masing-masing akan tetap terus ada dan bisa jadi berkembang sesuai dengan lingkungan tiap individu. Baik disadari maupun tidak, aturan-aturan yang mereka peroleh dari sekian perjalanan mereka akan mereka sosialisasikan pada keluarga masing-masing nantinya.
Karena tiap individu adalah wajah bagi kelembagaan keluarganya, penting bagi tiap individu untuk mempelajari berbagai macam kelembagaan yang ada pada dirinya dan lingkungannya. Agar mereka dapat menganalisis peran mana yang harus mereka lakukan ketika berhadapan dengan berbagai situasi di masyarakat. Karena, pada dasarnya aturan-aturan itu akan tetap ada sekalipun pada lingkungan yang liberal sekalipun. Tiap individu memerlukan aturan-aturan agar menjadi koridor mereka dalam bertindak. Dan aturan tersebut terkemas dalam suatu kelembagaan yang menjadi wadah sekaligus koridor tiap individu dalam berperilaku.
Kita sebagai salah satu dari contoh individu yang menjadi wajah bagi keluarga kita masing-masing. Mempelajari aturan-aturan baik internal dalam keluarga maupun eksternal (diluar keluarga) agar kita dapat menjadi aktor yang tepat dalam memosisikan diri dalam berbagai macam lingkungan dan situasi yang berbeda, dan menjadikan kita wajah yang baik bagi keluarga kita.









[1] Nasdian FT. 2014. Pengembangan Masyarakat. Jakarta (ID): Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Jumat, 06 Februari 2015

Mengenal Kepribadian Ambivert?

Pernah gak ngerasa aneh sama diri sendiri yang kadang mood nya gabisa ke kontrol? kadang sedih, seneng dalam satu hari bersamaan dan kamu ngerasa sifat kamu itu sering berubah-ubah? Kadang cerewet banget, kadang males ngomong, kadang suka berinteraksi dengan orang lain, kadang kamu ngerasa cukup melewati weekend dengan buku di kamar? Yes! selamat datang di dunia Ambivert!
 
Mungkin diantara kita banyak yang belum familiar dengan tipe kepribadian ini (saya pun baru tahu) kalau ada kepribadian yang bernama Ambivert di dunia ini.

Dari hasil searching di beberapa situs di internet, kepribadian ambivert adalah kepribadian gabungan dari kepribadian introvert dan ekstrovert. Dimana, seseorang yang memiliki kepribadian Ambivert dapat menunjukan pribadi introvert di suatu waktu, dan di waktu lainnya pribadi ini menunjukan seorang yang introvert.

Ambiversion is falling more or less directly in the middle. An ambivert is moderately comfortable with groups and social interaction, but also can enjoy time alone, away from a crowd

Singkatnya gini....

Satu waktu kamu merasa nyaman berinteraksi dengan banyak orang, aktif organisasi, dll. Tapi di waktu lain kamu menyukai kegiatan kesendirian kamu, kayak baca buku di kamar dan kadang menarik diri dari ajakan orang lain untuk hangout saat weekend.
Kamu gak menarik diri dari kehidupan sosial kamu seperti hangout bareng temen, dan lain sebagainya. Tapi, kamu juga menikmati waktu sendiri kamu dan gak ada orang yang bisa ganggu waktu "sendiri" kamu itu. Kamu tidak suka kesepian, tapi tidak juga mencintai keramaian.

And i'm officially Ambivert!

Awalnya, waktu sadar punya tingkat moody yang diatas rata-rata, i'm afraid.  Takut kalau ternyata saya punya kepribadian sampingan seperti yang buku tentang sybil, atau kepribadian ganda jelasin. Somehow, suka ngerasa aneh sama diri sendiri sama perubahan yang cepat gini, feel freak, feel strange.... But thank's God, I'm ambivert. Begitu leganya saya waktu tau kalau saya gak punya kepribadian ganda. Karena pada awalnya, saya hanya tau dua kepribadian yang ada, yaitu Introvert dan Ekstrovert.

Keuntungannya, seorang Ambivert dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Menjadi pribadi yang menyenangkan dan fleksibel karena dapat masuk dalam situasi apapun.

Tapi...

Seorang Ambivert bisa sangat annoying ketika dia moody.  Seorang yang Ambivert juga menjadi sulit ditebak karena sifatnya yang sering berubah-rubah seuai mood. Dia juga terlihat cuek, namun sangat sensitif.

So, Love yourself  'cause every human is adorable and unique :)



Regards

Dea