Lia menutup mobil dan memastikan ia
tidak menabrak mobil di kanan kirinya, juga memastikan bahwa ia bisa
mengeluarkan mobil nantinya. Ia mendesah pelan. Sudah satu tahun sejak ia bisa
mengendarai mobil, dan ia masih gugup jika akan parkir, terlebih di
tempat-tempat ramai seperti ini. Ia berjalan santai sambil sesekali menghalau
rambutnya yang berterbangan tertiup angin. Hari ini ia akan menghadiri reunian
SMA. Ia sudah tiga kali tidak datang, dan ia sudah merasa tidak enak dengan
teman-temannya yang tidak pernah jera mengirim SMS agar ia bisa datang ke acara
reunian ini.
Acaranya di restoran
sushi li. Ayok sini, udah pada kumpul. Lia membaca SMS masuk dari Hana lalu
bergegas ke lantai tiga.
“ya
ampuuuun Liaaaa kangen.” Hana memeluk Lia erat saat ia baru membuka pintu
restoran. Para pengunjung yang tidak lain teman-teman SMAnya semua menoleh ke
suara cempreng Hana. Lia menghela nafas pendek. Ini tidak akan lama. Janjinya dalam hati.
“kangen
juga Haaaaan.” Lia membalas pelukan Hana dan tersenyum.
“ya
ampun, kita udah berapa tahun sih gak ketemu setelah perpisahan kemarin?” Hana
menuntun Lia ke meja kotak yang sudah penuh oleh teman-teman SMAnya. Lia
tersenyum lalu menyalami mereka satu-satu.
“udah
lama ya, gak kayak gini.” Lia tersenyum. Ayolah
li, sudah tiga tahun. Lia merutuki dirinya yang masih merasa gugup.
“kamu
beda banget Li.” Dian tersenyum sambil menatap Lia dari atas sampai bawah.
Kemeja ungu tanpa lengan dipadukan dengan rok abu-abu selutut. Rambut hitam Lia
dibiarkan tergerai. Sapuan make up tipis dan lipstick berwarna Nude menghiasi
bibirnya yang sedang tersenyum. Mata sipit yang dipakaikan eyeliner terlihat
lebih besar sedang menunggunya meneruskan kalimat. Dian tersenyum lebar.
“tambah cantik. Iya kan temen-temen.” Dian tertawa diikuti teman-teman yang lain yang saling menimpali. Lia tersenyum samar lalu duduk disebelah Dian yang sibuk bercerita tentang kuliahnya yang semakin membosankan. Dosen-dosen killer dan teman-teman kuliahnya yang kelewat gaul.
“tambah cantik. Iya kan temen-temen.” Dian tertawa diikuti teman-teman yang lain yang saling menimpali. Lia tersenyum samar lalu duduk disebelah Dian yang sibuk bercerita tentang kuliahnya yang semakin membosankan. Dosen-dosen killer dan teman-teman kuliahnya yang kelewat gaul.
Sudah tiga tahun sejak terakhir kali
Lia melihat teman-teman SMAnya saat perpisahan sekolah. Ia sudah berjanji untuk
menutup lembaran ini dan melanjutkan hidup yang berbeda di dunia perkuliahan.
Tapi ia merasa tidak enak dengan teman-teman yang tetap rajin menghubunginya
untuk berkumpul meskipun ia sering tolak dengan berbagai alasan. Tapi kali ini
Lia melanggar janjinya. Ia datang. Itu pun karena Hana membujuk-setengah
memaksa- bahwa Lia harus datang.
“Ini reunian satu angkatan
Li”. Hana menjelaskan di telepon satu minggu yang lalu, dan untuk kesekian
kalinya Lia menolak dengan alasan harus mengurusi berbagai kegiatan kampus.
“kapan lagi kita
kumpul-kumpul satu angkatan? Tahun depan udah pada sibuk skripsi. Terus kerja.
Pasti susah banget buat ngajak ketemu.” Hana masih membujuk ketika Lia bilang
ia benar- benar tidak bisa.
“aku.. aku Cuma gak pengen
masa-masa SMA kita dulu jadi kenangan Li.”
Tapi aku pengen masa-masa itu Cuma kenangan Han.
“aku gak pengen masa-masa
itu kayak angin lewat dan jadi masa lalu.”
Tapi itu masa lalu, Han. Dan aku ingin melewati bagian itu.
“masa itu, masa yang
paling indah banget Li dalam hidup aku.”
Itu masa yang pengen aku lewatin di daftar perjalanan hidup
aku Han.
“aku kangen kita Li. Inget
gak waktu kita sama-sama bolos pelajaran komputer dan malah nongkrong di
kantin. Kita dimarahin abis-abisan sama bu Tuti. Inget gak waktu kita main bola
bekles tiap istirahat, terus yang kalah mukanya di coret pakai bedak. Inget gak
waktu Dian diselingkuhin Aris, dan Aris menghilang gak ada kabar buat Dian. Terus
kita ngelabrak Aris di kantin. Aris minta maaf setelah itu dan membicarakan
masalahnya dengan Dian. Walaupun akhirnya kita masuk BP dan dihukum menyiram
tanaman setiap pagi dan sore selama satu tahun.” Terdengar isak tangis yang
tertahan di telinga Lia. Lia ikut membayangkan kejadian-kejadian yang Hana
sebutkan.
“inget gak waktu kita
karokean sehabis UN, lanjut marathon film sampe mbak-mbak penjaga tiketnya
hafal muka kita, terus, kita foto-foto di toilet bioskop kayak anak alay.” Lia
mendengar Hana tertawa getir. Lia menitikan air matanya. Kenangannya di masa
itu, sekeras apapun ia mencoba, ia tidak akan bisa melupakannya. Itu terlalu
banyak, terlalu indah, dan terlalu pedih untuk ia kenang. Lia merasakan dadanya
sesak.
“aku Cuma pengen kamu
tahu, kalau kamu sama berartinya dengan masa depanku Li. Aku gak mau kamu Cuma
jadi masa lalu aku. Kita sahabat. Dan sahabat gak mengenal masa.” Lia mendapati
dadanya sesak. Tanpa ia sadari, ia juga sudah terisak. Kata-kata Hana tepat
merobek seluruh lapisan pertahanannya.
“aku bakal datang Han.”
Suara serak Lia mengakhiri isak tangis keduanya. “aku datang, tapi mungkin agak
telat. Aku harus… mempersiapkan diriku
sendiri.. mengurusi hal-hal yang harus aku urus. Oke.”
“oke, makasih ya Li.” Hana
menutup telepon terlebih dahulu. Lia tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan.
Tidak menyadari bahwa Hana tidak bisa melihat anggukannya.
Jadi disinilah dia. Menatap wajah
kemerahan teman-temannya akibat terlalu banyak tertawa. Tidak semuanya datang,
tapi tetap tidak mengurangi keceriaan mereka. Lia meneguk jus alpukatnya.
Sesekali ia menimpali obrolan teman-temannya tentang kejadian-kejadian konyol
sewaktu SMA. Lia menghela nafas lega. Dia
tidak datang..
“dia
gak datang?” Fajar dan Heri sedang mengobrol di sebelah Lia. Lia mematung
sejenak. Ia terkejut takut-takut ia menyeruakkan pikirannya dan terdengar oleh
mereka.
“katanya
datang, tapi telat.” Heri menjawab sambil menyalakan rokoknya.
“dasar.
Dari dulu gak pernah berubah dia. Selalu sibuk.” Fajar mengikuti Heri dan mengeluarkan
sebatang rokok dari sakunya. Lia menyikut lengan Fajar.
“Dia…
siapa?” Lia setengah berteriak karena suasana sangat ramai.
“Raka..”
Fajar tidak sadar perubahan wajah Lia, ia sibuk menyalakan rokoknya. Dada Lia
mencelos.
Lia ingin pulang segera. Jemarinya
meremas roknya. Ia tidak lagi menimpali ocehan-ocehan teman-temannya dan hanya
melemparkan senyum sesekali yang entah dapat disebut senyum atau tidak.
Fikirannya tertuju pada Raka yang akan datang. Apa yang harus ia lakukan? Ia
melihat ke pintu masuk. Seorang laki-laki dengan kemeja biru muda yang
lengannya digulung sampai siku mendekati pintu masuk. Jantung Lia semakin
berdebar. Dia.. datang. Lirihnya.
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar