Kamis, 13 Februari 2014

Get well really soon, kakek :*

Get well really soon kakek sayang :'(

Hari ini tepat empat hari sejak kakek masuk rumah sakit yang juga bertepatan empat hari sudah aku kembali ke Bogor. Kakek memang masuk rumah sakit, malam sebelum aku ke Bogor. Aku tahu kakek sakit karena sorenya aku mengantar mama memanggil dokter untuk memeriksa kakek sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit. Kakek muntah-muntah dan badannya dingin saat aku pegang waktu itu. Awalnya aku pikir karena kakek batuk sehingga ketika beliau makan tersedak lalu muntah. Tapi ternyata bukan begitu. Lambung dan usus kakek luka akibat makanan yang tidak terjaga dan jantungnya lemah karena beberapa tahun ini lebih sering tiduran saja dan tidak melakukan banyak hal.

Karena kakek sudah tua dan setiap bagian tubuhnya sudah tidak berfungsi sekuat bagian-bagian tubuhku. Kakek sekarang jadi pemilih makanan. Tidak bisa makan sembarangan karena bisa melukai ususnya. Kakek yang sekarang karena beberapa tahun yang lalu terjatuh dari kamar mandi harus berjuang ekstra keras berjalan dengan menggunakan tongkat. Juga merasakan kakinya yang menjadi bengkak akibat tulang yang patah. Tidak seperti tulang bayi yang baru lahir dapat kemabali tumbuh seiring pertumbuhannya, tulang pinggul kakek sudah tidak bisa tumbuh lagi dan harus puas dipotong akibat retak saat jatuh beberapa tahun silam.

Kakek sudah tidak bisa beraktivitas seperti biasa dengan kaki yang seperti itu. Karena itulah beliau lebih sering dirumah dan tidak melakukan apapun. Terlebih karena kakek sudah pensiun. Padahal dulu setelah pensiun kakek masih sering dan senang sekali pergi ke pasar. Entahlah, hanya membeli buah pepaya keinginanku saja kakek akan pergi ke pasar. Mungkin alasannya lebih dari sekedar menuruti keinginanku. Mungkin kakek senang bernostalgia dengan teman-teman pensiunan lain yang kini membuka toko di pasar, atau karena kakek merasa bosan tidak memiliki kegiatan. Tapi semenjak pensiun dan terjatuh dari kamar mandi ternyata membuat penyakit masa tuanya menjalar lebih cepat; kakek menjadi lebih pelupa. Ketika aku berkunjung libur semester kemarin, kakek berulang kali bertanya aku dari mana setiap lima menit sekali, dan aku jawab dengan jawaban yang sama "aku dari rumah" berkali-kali pula. Atau kakek akan meminta diambilkan minum setelah ia meminta aku mengambilkannya minum sepuluh menit yang lalu. Aku baru tahu bahwa tidak melakukan apa-apa selama beberapa bulan-bahkan tahun- membuat kita mudah lupa.

Dulu kakek seorang polisi. Bukan yang bertugas dijalanan mengatur lalu lintas, tetapi mengurus administrasi di kantor kepolisian. Foto masa mudanya dengan seragam polisi dipajang di ruang tamu rumah nenek. Waktu aku kecil  mama pernah bercerita bahwa dulu kakek sangat gagah dengan seragam dan sepeda onthelnya. Aku percaya itu karena melihat foto kakek yang dipajang di ruang tamu terlihat gagah memakai seragam polisi. Kakek sangat suka mencatat apapun yang dilakukannya (mungkin itu sebabnya beliau menjadi tenaga struktural di kantor kepolisisan dulu) karena kakek sangat teliti. Bahkan sampai saat ini kakek selalu menaruh kertas dan pulpen di dekat tempat tidurnya. Kakek akan menulis apapun. Dulu sih daftar belanja yang harus ia beli di pasar, sekarang? mungkin nomor telepon sanak saudaranya yang masih tersisa ketika datang berkunjung.

Dulu aku sangat senang mendengar cerita kakek tentang kisahnya saat Jepang menjajah, menjadi romusha, dan bercerita tentang teman-temannya dulu di asrama yang katanya sudah banyak yang meninggal. Aku dulu sering mengobrak-abrik laci kakek. Melihat kertas-kertas tagihan yang kakek simpan rapat di lacinya. Ternyata dulu televisi itu bayarnya seperti membayar kredit panci. Seorang petugas akan datang menagih tagihan lalu menuliskan berapa yang sudah dibayar di sebuah kartu kuning yang isinya ada beberapa gambar stasiun televisi yang ada di TV pengguna yang sampai sekarang masih eksis seperti TVRI, RCTI, SCTV. Aku juga pernah menemukan buku berisi foto hitam putih yang jika sekarang disebut buku tahunan sekolah, milik kakek. Ada banyak foto-foto disana dan aku dulu dengan riang-setengah memaksa- kakek untuk menyebutkan satu persatu orang yang ada di foto itu. Meskipun kakek sudah lupa-lupa ingat.

Jika aku datang ke rumah nenek, kakek akan berceloteh panjang lebar tentang masa lalunya, atau sibuk menanyakan bibi yang bekerja di rumahku masuk atau tidak. (aku tahu kakek menanyakan ini karena mama, anaknya, menjadi wanita karir dan sangat repot apabila bibi tidak masuk). Atau ketika aku kuliah di Bogor, kakek akan menanyakan apakah jalan ke Bogor masih rusak? masih banyak pohon? Apakah Bogor dingin? terus terang aku akan menjawab jalan ke Bogor sudah agak lebih baik dari tahun pertama aku masuk. Dulu lubangnya besar-besar yang jika hujan, air akan menggenanginya sehingga mungkin kambing kecil  dapat berenang. Tapi sekarang sudah lebih baik setelah jalananya di beton. Masih banyak pohon? hhmm, sejujurnya jalan kesana agak gersang. Apakah dingin? Aku merasa panas. Dingin hanya malam hari karena aku alergi dingin dan setiap malam aku tidak bisa tidur tanpa selimut. Mungkin satu hal yang belum berubah dari Bogor: Jika hujan, petirnya tetap menggelegar dan menyeramkan. Dan pertanyaan-pertanyaan ini akan kakek ulang setiap aku datang kesana. 

Kata Ua (kakak mama), kakek akan lebih cerewet jika aku datang. Padahal biasanya hanya bersikap acuh lalu tidur sepanjang hari, atau  menyuruh ini itu pada Ua berkali-kali, berulang kali. Aku hanya tersenyum mendengar cerita Ua. Aku hanya berpikir, mungkin kakek butuh teman bicara? Aku juga merasakan kesepian jika di kamar kost dan aku sendirian. Aku bahkan sering menangis jika sendirian. Mungkin kakek hanya kesepian tidak ada teman bicara yang bisa mendengarkan celotehan-celotehannya yang memang seperti anak kecil. Tapi bukankah jika sudah tua, kita akan kembali seperti anak kecil lagi? Meskipun dengan wujud yang lebih keriput dan sikap menjengkelkan yang menyuruh ini itu berulang-ulang. hehehe kadang aku juga gemas sih.

Enin (sebutan untuk nenek) juga begitu. Jika aku datang, ia akan berceloteh banyak hal. menceritakan apa saja (tapi lebih sering menceritakan tingkah kakek yang lucu) Dan kita akan tertawa menertawakan cerita enin tentang kakek yang tiba-tiba di siang bolong, ketika mereka hanya berdua di rumah, dan kakek ingin wingko babat, atau dadar gulung, atau kue satu (kue zaman mama kecil dulu, terbuat dari sagu yang dulu harganya satu perak), Atau menanyakan kabar Fitri di film cinta Fitri, bagaimana kelanjutan ceritanya padaku. padahal aku tidak pernah menontonnya dan yang aku tahu, film cinta Fitri sudah lama tamat. Jadi aku akan bilang, mereka hidup bahagia selamanya. hehehehe. 

Tapi itu dulu. Sekarang kakek dirawat di Rumah sakit. Kata mama kemarin kakek menanyakan aku. Ketika kakek siuman, cucu-cucu dan anak-anaknya yang datang sibuk mengenalkan diri mereka masing-masing. Ketika adik-adikku dan cucunya yang lain bilang "ini siapa?" sambil menunjuk diri mereka sendiri, kakek hanya tersenyum tanda tidak tahu. Tapi kakek menanyakan aku pada mama. Ada perasaan senang juga sedih mendengarnya. Aku senang karena kakek ingat aku. Hahaha. Tapi sedih, karena kakek sudah lupa banyak hal. mungkin ia juga lupa masa lalunya dulu yang sering dengan bangga ia ceritakan padaku. Cerita mama membuat aku ingin pulang dan melihat kakek. Tapi aku tidak bisa karena harus kuliah.

Tapi aku tahu ada hal yang bisa aku lakukan dari tepian jarak yang memisahkan kami. Mama selalu bilang bahwa kekuatan doa sangatlah kuat. Mama juga selalu bilang bahwa setiap doa baik itu akan dijabah Allah. Hanya saja ada beberapa yang harus masuk daftar tunggu, ada juga yang langsung di kabulkan. Aku percaya bahwa doa dapat mendekatkan kami yang jauh. Cepat sembuh kakek sayang. Meskipun sekarang gigi palsu kakek sudah di copot dan agak susah untuk mengerti apa yang kakek bicarakan. Dea akan tetap mendengarkan cerita kakek. Sekedar menanyakan apakah bibi masuk kerja atau Bogor masih dingin apa tidak, tentu saja bisa Dea jawab. Jadi kakek cepat sembuh ya. We love you :*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar